“Maksud kedatangan saya kesini,,, sebenarnya ada ‘maksud’ dengan rhei; jika bapak berkenan, semoga kami berjodoh, dan bapak jodoh dengan saya, sebagai mertua dan menantu”;
akhirnya kalimat itu terucap juga, setelah beberapa kali menghela nafas panjang dan dalam, setelah sekian malam jadwal tidur terganggu, setelah bertetes-tets keringat mengucur, dan tempo cepat degup jantung berdetak.
sekilas mata kami saling bertatapan, kemudian mataku menatap ruang kosong diantara kami. Matanya kemudian menerawang langit-langit, kutahu tak ada yang dia cari dilangit-langit rumahnya ini, yang dia cari adalah sebuah benda bernama keputusan dilangit hatinya.
“Jika itu yang mau kamu sampaikan,,,” beliau tersenyum sambil menatap lembut; “beri kami waktu beberpa hari, saya perlu berdiskusi dengan rhei.”
seminggu berselang, tiap mentari bangkit dari malam, ku selalu berharap dia membawa berita terang tentang jawaban ayah rhei atas lamaranku untuk menikahi rhei, tanpa melalui rangkaian dosa dalam hubungan terlarang. Siang terik ini terasa sejuk, jika terbayang jalinan suci pasca akad. Dari bawah pohon randu, di taman kampus, kulihat beberapa pasang manusia berjalan berdampingan bergandengan tangan.
“assalamualaikum,” suara lembut seorang hawa menyapaku dari belakang. Kupaingkan arah pandangku. Berdiri sosok anggun dengan balutan jilbab besar warna ungu, baju gamis yang terjulur hingga telapak kaki dengan warna yang hampir sama dengan jilbab yang dia kenakan. Wajahnya segera tertunduk, sesaat setelah dia menyadari, pandanganku mengamati raut yang tak biasa diwajahnya.
“Rhei???” tanyaku sambil tersenyum.
Dia kemudian duduk beberapa langkah disampingku, ditembok pembatas jalan. Tak seperti biasa, dia selalu tertunduk, tanpa senyum, tatapannya terbuang kesegala arah, mencari sesuatu yang hilang dalam pikirannya.
“ada apa?” tanyaku lembut.
Tubuhnya terlihat bergetar. Kemudian dia memaksakan menatapku. Melihat mata dan wajahku, namun genangan air di matanya yang kutangkap.
“Mau ngasih ini,” jawabnya singkat sambil terisak, mengulurkan tangan memegang amplop berwana kuning.
“assalamualaikum,” cepat dia berpamitan, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berlalu pergi.
Tiga hari berikutnya, sudah berpuluh-puluh kali aku baca berulang-ulang surat yang dia buat. Isinya berlembar-lembar, hingga belasan lembar, tepatnya 17 lembar.
Intinya adalah orangtuanya tidak setuju, walaupun dia sudah berusaha sangat gigih merayu, membujuk dan meyakinkan ayahnya bahwa aku adalah orang yang selama ini dia harapkan untuk menjadi suaminya, pembimbing kehidupannya untuk menjadi hamba Allah yang diridhai, umat Muhammad yang diberkati, dan istri shalihah yang dicintai.
alasan yang masih sulit kupahami adalah alasan Ayahnya, karena aku mengenakan celana diatas mata kaki dan bejenggot. Kata ayahnya, itu tidak pas dengan kultur kampung dimana ayahnya menjadi imam masjid di kampung tradisional itu.
Sekitar empat tahun berikutnya. seorang teman bercerita, bahwa rhei sudah menanggalkan jilbab besarnya, tidak hanya itu, sekarang rhei menutup aurat kepalanya hanya bila diharuskan atau menghadiri acara khusus, sehari-hari keluar rumah, atau jalan-jalan santai biasa, Rhei telah menanggalkan mahkota jilbabnya. Satu hal lagi yang sangat memukul telak kekagetanku adalah kenyataan, bahwa sekarang rhei telah tinggal dengan lawan jenis, seorang lelaki yang dia sebut pacarnya, dalam satu rumah, tanpa ikatan pernikahan.
Lelaki ahli surga
- khusyu dalam shalatnya
- menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna
- menjaga kemaluaannya kecuali pada istrinya
- ahli shaum dan selalu menunaikan zakat
- senantiasa menundukkan pandangan
- bersih aqidahnya sehat rohaninya
- benar dalam ibadahnya
- jiwanya senantiasa bersungguh-sungguh
- mampu berusaha mencari nafkah
- bermanfaat bagi orang lain
- senantiasa siap menolong
- selalu yakin dalam setiap tindakannya
- berpikir positif dan membangun
- rendah hati (tawadhu)
- selalu menghindari perkara yang samar-samar (syubhat)
- pemaaf dan lapang dada
- bersikap keras dan tegas terhadap kekafiran
- efisien dalam memanfaatkan waktu
- istiqomah dalam kebenaran
wanita ahli surga
- ridho dengan suami yang dijodohkan oleh Allah SWT
- menjadi istri yang setia kepada suaminya dikala senang dan susah
- selalu memohon maaf kepada suaminya
- senantiasa taat akan perintah suami selagi tidak bertentangan dengan syariat
- senantiasa mendahulukan suami dalam segala keadaan
- senantiasa menghibur hati suami
- senantiasa menyenangkan bila dipandang suami
- melembutkan pandangan dan tunduk tatkala memandang suami
- tidak pernah menolak disentuh suami kapanpun ia perlu
- tidak berkhianat terhadap harta, perkara dan sebagainya tatkala suami tidak ada
- senantiasa hormat kepada suami dan ibu/bapak serta keluarga suami
- selalu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan untuk suami
- selalu bersih dan bersolek untuk membahagiakan suami
- tidak menunjukkan wajah yang muram dan berlaku kasar terhadap suami
- menyambut suami dengan senyum dan mencium tangan suami
- tidak keluar rumah tanpa izin suami
Empat thn lalu, kecelakaan telah merenggut orang yg kukasihi,sering aku
bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di alam surgawi, Dia pasti
sedih krn sudah meninggalkan sorang suami yg tdk mampu mengurus rumah dan
seorang anak kecil.
Begitulah yg kurasakan, krn selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, tdk
bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak aku , dan gagal utk menjadi ayah
dan ibu utk anak aku .
hampir setiap hari, aku harus sgr berangkat ke kantor, sementara anak masih
tertidur. Ohhh… aku harus menyediakan makan
untuknya.
Krn masih ada sisa nasi, jd aku menggoreng telur utk dia makan. Setelah
memberitahu anakku yg masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke
kantor.
Peran ganda yg kujalani, membuat energiku sangat terkuras. Suatu hari ketika
pulang kerja aku merasa sangat lelah,. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium
anakku, kemudian langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.
Namun, saat merebahkan badan utk tidur sejenak.., tiba2 serasa ada sesuatu yg
pecah dan tumpah seperti cairan hangat! kubuka selimut dan….. 1 mangkuk pecah
dgn mie instan yg berantakan di seprai dan selimut!
Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung
menghujani anakku yg sedang gembira bermain, dgn pukulan2! Dia menangis, tanpa
meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
“Ayah, tadi aku lapar, tp tdk ada sisa nasi. Tp ayah blm pulang,jd aku masak
mie. Aku ingat, ayah pernah mengatakan utk
tdk menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar,
maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas utk memasak
mie. 1 utk ayah dan yg 1 lg utk aku .. Krn aku takut mie’nya akan dingin,jd aku
menyimpannya di bawah selimut biar tetap hangat sampai ayah pulang. Tp aku lupa
utk mengingatkan ayah krn aku sedang bermain … aku minta maaf … “
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku … aku tdk ingin anakku melihat
ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dgn menyalakan
shower di kamar mandi utk menutupi suara tangis aku . Setelah beberapa lama, aku
hampiri anakku , memeluknya dgn erat dan memberikan obat kepadanya atas luka
bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya utk tidur. Kemudian aku
membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku,
dan melihat anakku masih menangis, bukan krn rasa
sakit di pantatnya, Tp krn dia sedang melihat foto bundanya…
1 thn berlalu, aku mencoba, dalam periode ini, utk memusatkan perhatian dgn
memberinya kasih sayang seorang ayah sekaligus seorang ibu, serta memperhatikan
semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan
lulus TK.
Namun… blm lama, aku sudah memukul anakku lg , aku benar-benar menyesal….
Guru TK nya memberitahukan bahwa anakku absen dari sekolah. Aku pulang kerumah
lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tp ia tdk ada
dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan
akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer
game dgn gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dgn pukulan2.
Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, Ayah”.
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan
bakat” yg diadakan oleh sekolah,
krn yg diundang adalah siswa dgn ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya krn
ia tdk punya ibu…..
Beberapa hari setelah penghukuman dgn pukulan rotan, anakku pulang ke rumah
memberitahu aku , bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis..
Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya utk berlatih
menulis, yg aku yakin, jika istri aku masih
ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat aku bangga
juga!
Waktu berlalu dgn begitu cepat, 1 tahun telah lewat. Saat liburan tahun baru..
tiba-tiba kantor pos menelpon.-
Tp astaga, anakku membuat masalah lg…
Mereka marah2 memberitahu bahwa anaku mengirim beberapa surat tanpa alamat.
Walaupun aku sudah berjanji utk tdk pernah memukul anak aku lg, Tp aku tdk bisa
menahan diri utk tdk memukulnya, krn aku merasa bahwa anak ini sudah
keterlaluan. Tp seperti seblm nya, dia meminta maaf : “Maaf, Ayah..”. Tdk ada
tambahan
satu kata pun utk menjelaskan alasannya melakukan itu.
Setelah itu aku pergi ke kantor pos utk mengambil surat-surat tanpa alamat tsb .
Sesampai di rumah, dgn marah aku mendorong anak aku ke sudut mempertanyakan
kepadanya, perbuatan konyol apalag i ini? Apa yg ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu utk bunda…..”.
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. Tp aku mencoba mengendalikan emosi dan terus
bertanya kepadanya: “Tp kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada
waktu yg sama?”
Jawabannya : “Aku telah menulis surat buat bunda sejak dulu, Tp setiap kali aku
mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tdk dapat
memposkan surat-suratku. Tp baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku
bisa mencapai kotak
itu dan aku mengirimkannya sekaligus”.
Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku
bingung, tdk
tahu apa yg harus aku lakukan, dan apa yg harus aku
katakan ….
Aku bilang pada anakku, “Nak, bunda sudah berada di surga,jd utk selanjutnya,
jika kamu hendak menuliskan sesuatu utk bunda, cukup dgn membakar surat tsb maka
surat akan sampai ke bunda. Setelah mendengar hal ini, anakku jd lebih tenang,
dan bisa tidur dgn nyenyak. Aku berjanji akan membakar surat-surat atas namanya,
jd aku membawa surat-surat tsb ke luar, Tp …. aku jd penasaran utk tdk membuka
surat tsb seblm mereka berubah menjadi abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati aku hancur……
Bunda sayang,
Aku sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di
sekolah, dan mengundang semua ibu utk hadir di pertunjukan tsb . Tp bunda tdk
ada,jd aku tdk ingin menghadirinya juga. Aku tdk memberitahu ayah tentang hal
ini krn aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lg .
Saat itu utk menyembunyikan
kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu
toko. Ayah keliling-keliling mencari aku , setelah menemukanku ayah marah, dan
aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, Tp aku tdk menceritakan alasan yg
sebenarnya.
Bunda, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat
padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis dikamarnya. Aku
pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat utk kita berdua, aku
rasa. Tp bunda, aku mulai melupakan wajahmu.
Bisakah Bunda muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan ingat
bunda? Temanku bilang jika kau tertidur dgn foto orang yg kamu rindukan, maka
kamu akan melihat orang tsb dalam mimpimu.. Tp Bunda, mengapa engkau tak pernah
muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tdk bisa berhenti krn aku tdk pernah bisa
menggantikan kesenjangan yg tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh
istri aku ….
Utk para
suami, yg telah dianugerahi seorang istri yg baik, yg penuh kasih terhadap
anak2mu, selalu berterima kasihlah setiap hari padanya. Dia telah rela
menghabiskan sisa umurnya utk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu,
memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan
anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dgn
segala kekurangan dan kelebihannya, krn apabila engkau telah kehilangan dia, tdk
ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya…
Firdaus Ruswandi

