Oleh Al-matPY ibnu thalib
Saat ini terasa sepi, tepatnya sunyi, tapi kulihat banyak orang lalu lalang dengan masing-masing aktivitasnya. Siang ini terasa terik, tapi tak kulihat matahari. Aku lelah, tapi tubuhku terasa ringan. Semua benda harusnya terlihat, tapi kadang ada yang tak nampak. Kurasa waktu berjalan tidak berurutan dan tidak dengan ukuran seperti biasanya. Anehnya, keanehan ini tak kurasakan sebagai keanehan, seaneh munculnya sesosok tubuh dengan tiba-tiba dihadapanku. Semua pandangan selain sosok itu seakan lenyap, tertelan konsentrasiku coba mengenali siapa gerangan pemilik sosok itu. Semakin ia mendekat, akhirnya aku dapat mengenalinya: ‘abocks’ begitu aku biasa memanggilnya. Dia berubah! Penampilannya, wajahnya dan senyumnya. Rambutnya pendek rapi, tak lagi gondrong, terlihat acak-acakan dan terkesan kumuh. Bukan jeans dengan sobekan dilutut atau kaos oblong, tapi jubah putih lengkap dengan kopeahnya. Wajahnya teduh, tak sekusut terakhir aku berjumpa dengannya. Dan yang paling sulit kuterima dan sulit kujelaskan adalah, senyumnya. Begitu lepas, tulus, ikhlas, bahagia, damai dan membuatku bertanya, darimana dan bagaimana dia mendapatkan senyum itu? Apa yang membuatnya berubah sedrastis itu? Sudahkah dia temukan arti hidupnya? Tapi entah kenapa aku tak dapat mengutarakan satupun pertanyaan. Dan dia bicara dalam diam tidak dengan bahasa suara:”Terima kasih ‘teman’ atas apa yang kau beri siang itu. Malamnya kuberikan sepenuhnya pada Tuhanku, apa yang kupunya dengan diriku, jiwaku, hidupku. Dan tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Nya!!! Andai karunia waktu dan hidup di dunia masih Dia berikan padaku, bahagialah kamu yang masih punya kesempatan untuk beribadah kepada-Nya. Terima kasih saudaraku, semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. Sampai jumpa di masa paling depan:saat kembali pada-Nya” Begitu saja dia pergi menjauh. Dan tiba-tiba mataku terbuka dari tidur, mengakhiri mimpiku.
Aku coba mencerna dengan seksama dalam sadarku, mimpi yang baru kualami. Dan bayangku mengarah pada seorang teman yang baru saja kutemui dalam mimpiku.
Seorang teman yang menurut orang disekitarnya dianggap aneh. Tapi aku sebagai teman kuliah dan juga teman satu organisasi dengannya, tak lagi merasa keanehan dengan semua yang ada padanya, setelah aku semakin mencoba mengenal dia lebih dari sekedar aku sebagai orang diluar dirinya. Awal aku mengenal dia memang aku juga menganggapnya aneh seperti kebanyakan orang disekitarnya. Seiring waktu, aku baru bisa sedikit memahaminya dengan berhenti mencoba mengenalnya, dan mencoba keluar dari ke-aku-an, dan melampaui diri sendiri, saat itu aku belajar darinya untuk tidak sekedar menjadi diri sendiri, juga belajar menjadi orang lain. Dan akhirnya mencoba menjadi dirinya, maka aku dapat merasakan apa yang dia rasakan sebagaimana aku mengenal apa yang kurasakan. Dia hanya orang yang menjadi orang lain dengan mematikan dirinya yang sesungguhnya. Dia banyak menciptakan kepribadian untuk dia jadikan kepribadian buatannya sendiri. Dia coba menikmati hidupnya bukan sebagai dirinya. Katanya itu adalah untuk dia dapat mengenal siapa dirinya sebenarnya, dan untuk apa hidupnya.
Pertemuan kami terakhir kali pada suatu siang, hari terakhir ujian, bukan dalam mimpi, dalam dunia nyata, di kampus tepatnya di lantai empat gedung fakultas. Mengisi waktu menunggu ujian, kami mengobrol yang menurutku cukup biasa. Katanya dia malas ujian, malas kuliah dan malas hidup. Ujian adalah bagian dari proses kuliah, sementara kuliah adalah bagian dari hidupnya, dank arena dia malas hidup, diapun malas melakukan apapun. Waktu itu aku hanya bilang:”Kalo kamu malas ujian, kamu gak kasihan sama dirimu sendiri? Kenapa tetap datang ujian? Kalo kamu malas kuliah, kasihan orang tua kamu membiayai kuliahmu. Kalo kamu malas hidup, kasihan Tuhan capek-capek nyiptain kamu, menghidupkan kamu, dan membiarkan kamu hidup sampai sekarang.”
“Itu dia masalahnya, kalau kamu kasihan sama Tuhan, tidakkah kamu kasihan pada kita sebagai manusia? Apakah kita minta untuk diciptakan? Apakah kita diberikan pilihan untuk menentukan jalan hidup kita? Apa kita berhak untuk menetapkan apa yang kita dapatkan dan apa yang tidak kita dapatkan dalam hidup kita? Apakah kita bisa memutuskan apakah kita akan masuk neraka atau surga? Nyatanya yang kita tahu sekarang kita hidup, hidup kita terikat takdir, dengan ketetapan apakah kita ahli surga atau neraka. Apakah kita bisa merubah apa yang tertulis dalam sijjin dan iliyyin, atau minimalnya mengetahui apa isinya? Apakah kita memiliki posisi yang setara dengan seandainya kita dapat menulis lauh mahfudz? Hal yang ghaib tersembunyi, sementara hakikat terlihat samar bagi kita. Jika kehidupan ibarat permainan catur, Tuhan bermain dengan diriNya sendiri. Kita hanyalah bidak-bidak yang mengira kita adalah pemain. Dalam petak hitam-putih kebenaran dan keburukan, dengan bidak hitam-putih kebaikan dan kejahatan, kita hanya salah satu bidak dari bidak-bidak makhluk Tuhan lainnya. Sehingga keadan akhir bukanlah kemenangan atau kekalahan, karena pemainnya sama. Kita tidak diberikan pilihan berada di pihak yang kalah atau menang, kita hanya berada diposisi yang pemain inginkan, menjadi bidak putih atau hitam dan ada di posisi petak hitam atau putih, adalah hak pemain. Kita bahkan tidak punya pilihan untuk jadi raja, menteri atau prajurit, juga kemana kita akan melangkah. Karena dimensi ‘waktu’, Dia ciptakan sebagai titik, dimana kemarin adalah sekarang, sekarang adalah besok, dan kita dimatikan saat kita dilahirkan sebagaimana kehidupan dibinasakan saat Ia diciptakan. Tapi yang kita tahu waktu berjalan sebagai garis lurus, awal berjalan menuju akhir, pagi-siang-sore, senin-selasa sampai minggu, januari hingga desember, diciptakan dan akhirnya dihancurkan. Bukankah kita adalah mainan Tuhan? Siapa yang kamu kasihani sekarang?”
Aku menjawab sekenanya:”Sekarang aku jadi kasihan sama kamu, kenapa kamu dimakan dan ditindas pikiranmu sendiri. Aku tidak lagi kasihan sama Tuhan, karena Dia memang Maha suci dari celaan dan apa yang kita sangkakan, Maha besar dari permasalahan kecil kehidupan, jangankan ada tidaknya kamu, ada tidaknya kehidupan hakikatnya tidak menambah atau mengurangi walau setitikpun keagungan Tuhan. Mungkin kamu juga dibohongin hatimu sendiri, tidakkah kamu sadar kamu sedang dipermainkan makhluk yang katanya bertanduk? Sejak kamu lahir sampai kamu mati, dia itu musuhmu sebenarnya yang sering kamu lupa, dan lengah menghadapi serangannya. Jawaban pertanyaan kamu sebenarnya ada sebelum pertanyaan itu terlontarkan, yaitu ketika kamu memilih untuk mempertanyakan pertanyaan itu atau tidak, sehingga kamu bisa bertindak sebagai majikan atau budak pikiranmu. Sebagai bidak, keridhaan atau kemurkaan pemain adalah parameter kemenangan. Surga dan neraka adalah keadaan akhir kemungkinan posisi kita beradan. Pilihan kita memang bukan menjadi raja, menteri atau prajurit, tapi apakah kita menjalankan tugas sesuai dengan posisi kita. Apapun yang kita pikirkan dan rasakan, Tuhan sangat jauh lebih mahatahu dari sekedar apa yang kita tahu. Setidaknya kamu harus tahu bahwa tidaklah pemain menyusun bidaknya melainkan untuk mematuhi perintahnya. -Wa maa khalaqtul jinna wal insaa illa liya’budun-“. Dia menjawab dengan diam.
***
Esok harinya sebuah sms kuterima:”Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, tlah mninggal dunia: Abocks Pynthone, teman dan saudara kita, pd hari jumat, 17 Nov 06, dlm kecelakaan di kampung halamannya, ciamis. Semoga arwahnya diterima disi Allah SWT, Amin.” Kulayangkan pandangku pada kalender yang terpajang di dinding, hari ini: Senin, 20 Nov 06.(al-mpy)



2 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
12 Agustus 2007 pada 2:58 pm
sayyid ahmad al-Kahfi
Assalamu’alaikum wr wb
wah..cukup bagus…semoga lebih bagus lagi.
kalau bisa dipublikasikan,krn bs jd bermanfaat buat orang yang membacanya.
Wassalamu’alaikum wr wb
18 September 2007 pada 1:17 pm
ananto
Assalamualaikum,, terus berkarya dan tetap semangat,, hehe