Sebuah titik dalam sebuah titik
Mathyus 210707
Sore kemarin, aku main ke boulevard UGM, setelah ambil sertifikat disebuah tempat kursus. Melewati bunderan UGM, ada sekelompok orang yang berfoto ria di depan tulisan ‘Universitas Gajah Mada’. “Katrox,,,”, kata Waqi, teman yang bonceng dibelakang sepeda motorku. Kemudian ada sekelompok orang duduk melingkar. “Rapat panitia opo kuwi?” Waqi bertanya. “Mbuh, ra ngerti” jawabku. Mungkin panitia Ospek, Dakwah atau apalah, karena hampir semua wanitanya berjilbab. Kemudian kami melewati sekelompok orang menarikan tarian Capoera. Pada tempat selanjutnya kami menyaksikan orang-orang memainkan botol layaknya bartender. Melewati pertigaan, kami belok kekiri berlawanan dengan arah ke masjid kampus UGM. Di pojok jalan yang tertutup pagar, terlihat formasi marching band. Kami berhenti di bawah pohon beringin besar. Waqi masih duduk diatas sepeda motor, sementara aku langsung berubah posisi, naik ke tembok di tepi lapangan yang membatasi boulevard dengan Gedung Graha Sabha Pramana. Di jalan sebelah barat lapangan, penuh dengan orang yang bermain sepakbola, futsal, lari, atau sekedar duduk disamping jalan. Ditengah lapangan, puluhan, mungkin ratusan orang lepas bermain bola tak menghiraukan debu yang beterbangan seolah menggelapkan pandangan, akupun risih melihatnya, tapi entah dengan mereka, mungkin terlupakan asyiknya mereka bermain. Disisi jalan pedagang menjajakan dagangannya, ada gorengan, es buah, tempura, dan banyak lagi lainnya yang aku gak hafal karena tak satupun aku beli, tgl tua sih. Disuatu sudut sepasang pengemis cukup renta, menengadahkan tangan pada orang yang tidak ‘sejenis’ dengan mereka, kemudian seorang pedagang asongan berlalu disampingku. Sementara instrumen dari marching band menguasai suara untuk sementara waktu, pandanganku tak lagi horizontal, kuubah arah pandanganku ke arah vertikal ke atas, disana ada langit dan awan, sesekali burung yang terbang mengepakkan sayapnya, dan burung besi yang terlihat lebih gagah berlalu. Perlahan langit memerah, kupikir bukan karena malu kulihat terus, tapi karena sore mulai menjelma malam, sehingga cahaya matahari yang menerobos atmosfer bumi membentuk sudut yang ketika bekerja sama dengan awan disore hari, spektrum cahayanya membentuk senja yang indah. Kemudian sejenak mataku terpejam.
Disini, di kompleks, ini, aku sebagai individu layaknya sebuah titik manusia diantara sekian manusia lain yang hidup dan beraktivitas sesuai dengan yang dilakukannya masing-masing, sedari tadi ada yang foto-foto, rapat, berlatih capoera, memainkan botol, berdagang, bermain bola, meniup trompet, menjadi instruktur marching band, duduk di tangga gedung GSP, dan tentunya lebih banyak aktivitas yang lebih spesifik lainnya; seandainya aku dapat terbang, keatas lebih tinggi, sehingga bisa melihat seluruh kota jogja, pastinya aku akan melihat lebih banyak manusia lain dengan lebih banyak ragam aktivitasnya, yang akhirnya kompleks tempat sekarang kuberdiri hanyalah sebuah titik. Andai pun dapat terbang lebh tinggi lagi, sehingga seluruh pulau jawa dapat terihat, maka kota jogja menjadi sebuah titik pula. Seandainyapun aku dapat terbang semakin tinggi dan tinggi sehingga dapat melihat bumi hanyalah sebuah titik kecil dalam jagat raya semesta, yang memuat titik titik dan titik hingga ke sebuah titik seorang manusia yaitu aku, disini. Akhirnya bila aku terbang ke tempat yang paling tinggi, maka kudapati dimensi ‘TEMPAT’ duniawi ADALAH SEBUAH TITIK.
Ketika kubuka mata, setidaknya dapat kupastikan tak ada satupun yang benar-benar sama dengan saat sebelum kututup mataku tadi, minimalnya semua itu sekarang berada di waktu yang berbeda dengan sebelum ku tutp mataku tadi. Dan beberapa kedipan mata selanjutnya, seiring detik waktu yang terus berjalan, semuanya kembali berada dalam waktu yang berbeda. Jika detik demi detik adalah rangkaian titik yang mebentuk titik hari, kemudian membentuk titik minggu, bulan, tahun, bahkan abad sekalipun, tetaplah semua waktu tersebut adalah sebuah titik, karena bagi Tuhan WAKTU ADALAH SEBUAH TITIK.
Diantara milyaran manusia yang hidup di dunia saat ini, AKU HANYALAH SEBUAH TITIK. Bila menjadi satu dengan seluruh manusia yang pernah hidup, semakin AKU HANYALAH SEBUAH TITIK. Secara fisik yang sekarang berdiri diatas bumi dikolong langit, AKU HANYALAH SEBUAH TITIK. Detik, menit dan jam ini dalam hari ini HANYALAH SEBUAH TITIK. Tahun ini sekalipun bisa jadi HANYA SEBUAH TITIK. Karena dimensi waktu bagi Tuhan HANYALAH SEBUAH TITIK. Karena memang kehidupan dunia ini HANYALAH SEBUAH TITIK. Ternyata disini, saat ini, aku, adalah sebuah titik kecil dalam sebuah titik yang ada di dalam titik terbungkus titik.
???
Tapi katanya, rangkaian titik-titik akan menjadi sebuah garis, lalu apa garis itu?
Katanya lagi, garis itu adalah kumpulan titik-titik yang menghubungkan dua buah titik ujung garis.
Bila dilihat bahwa sekarang, disini aku hidup didunia; bisa jadi dua titik itu adalah surga dan neraka, karena adam dan hawa beserta keturunannya (termasuk aku, kamu dan kita) berasal dari sana. Masalahnya dimana titik ujung selanjutnya,bisa surga atau neraka. Bila hidup ini dimaknai sebagai usaha untuk membentuk garis lurus dalam rangka mengarahkan garis hidup kita menuju sebuah titik ujung garis hidup kita: surga. Lagi-lagi kita dapati disana waktu tak lagi berujung, karena disanalah keabadian, maka bisa jadi juga garis sesungguhnya adalah disana: di surga. Garis hidup kita yang akhirnya hanyalah sebuah titik adalah usaha untuk menetapkan titik awal dalam garis abadi kita nanti adlah di surga. Apakah titik-titik yang aku, kamu dan kita sekarang lalui adalah rangkaian titik-titik yang membentuk garis lurus mengarah ke surga itu? Apakah main bola, berdagang, shalat, berlatih capoera, membaca, puasa, dan segala apapun aktivitasnya, membentuk garis lurus mengarah ke surga itu?
Bilapun kutahu dalam tubuhku ada sesuatu yang katakanlah roh atau jiwa atau sukma atau apapun sebutannya, yang itu berasal dari Dzat Yang Maha, dan setelah dari tubuh ini, titik akhirnya adalah kembali pada Dzat Yang Maha itu lagi, berarti titik awal dan titik akhir adalah titik yang sama, yang berarti garis yang akan kita buat akan membentuk titik itu sendiri: Tuhan. Disinilah kita pahami bahwa segalanya, semuanya apapun itu bentuknya berawal dan berakhir di titik Dzat Yang Maha, berasal dan kembali pada Dzat Yang Maha, dari dan untuk Dzat Yang Maha.
!!!
“Allahu Akbar Allahu Akbar…”
Ada gema berkumandang, hampir semua aktivitas disini berubah, yang main bola berhenti, yang baris marching band bubar, pengunjung pulang. Dan Waqi berteriak padaku:” Balik yuh!”. Setelah mendekatinya, kubilang:”Mangan sek yo”. Dia jawab, “mengko telat ngaji meng Ustadz Ghafur”. Dalam hatiku, entah Waqi tahu atau tidak tentang itu titik awal titik akhir, titik yang membentuk garis, garis semu dan garis abadi, garis yang ternyata adalah sebuah titik, selama titik hatinya terikat dengan Titik Sejatinya, semoga rangkaian titik-titik aktivitas hidupnya, hidupku, hidup kita, terarahkan untuk membentuk sebuah garis lurus menuju titik akhir di surgaNya;
“Langsung bali iki?”aku bertanya.
“Shalat Maskam wae, ra sempat jamaah mengko” jawab Waqi.
Semoga pilihannya, seperti juga pilihanku dan pilihan kita, adalah pilihan yang tidak keluar dari titik asal jiwa kita, dan titik kembali jiwa kita, yang itu berada pada sebuah Titik Tunggal dan Abadi, Titik Tuhan, keridhaan, dalam perintah dan laranganNya;
Sepeda motorku menyusuri jalan menuju Masjid Kampus UGM, dengan aku masih mengingat, dan semoga selalu ingat, bahwa aku, kamu, kita dan mereka hanyalah SEBUAH TITIK DALAM SEBUAH TITIK.(py)



Tinggalkan Komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini