You are currently browsing the monthly archive for Agustus, 2007.
Al-MatPy ibnu Thalib*
Kemudian semuanya dihancurkan kecuali DIA, bahkan kehancuranpun dihancurkan, sehingga setelah itu tak ada lagi kehancuran;
Kemudian semua yang hidup dan bernyawa dimatikan, kecuali DIA, bahkan kematianpun dimatikan, sehingga setelah itu tak ada lagi kematian;
Setelah semuanya dihancurkan dan dimatikan, yang ada hanya DIA;
DIA berkata:”Akulah Raja”;
Kemudian DIA menghendaki menghidupkan setelah mematikan;
Masing-masing lapor kepadaNYA;
Maka datanglah:
Sembah hamba, hamba diciptakan dari api, hamba menjadi makhluk seperti yang Engkau kehendaki, hamba melakukan hakikat penciptaan hamba, hamba tidak bersujud pada mereka seperti yang Engkau kehendaki, hamba menggoda hidup mereka selama didunia, dengan izin-Mu seperti yang Engkau kehendaki, dan kami tidak dapat menyesatkan satupun diantara mereka, melainkan siapa yang Engkau kehendaki, yaitu mereka yang berlepas dari Engkau, tugas hamba selesai, hakikat penciptaan kami telah kami jalankan;
Kemudian datanglah:
Sembah hamba, hamba diciptakan dari cahaya, hamba menjadi makhluk seperti yang Engkau kehendaki, hamba melakukan hakikat penciptaan hamba, hamba bersujud pada mereka seperti yang Engkau kehendaki, hamba taat, tunduk dan sujud kepada Engkau seperti yang Engkau kehendaki, dan kami tidak dapat menyelamatkan satupun diantara mereka, melainkan siapa yang Engkau kehendaki, yaitu mereka yang berserah pada Engkau, tugas hamba selesai, hakikat penciptaan kami telah kami jalankan;
Lalu datanglah:
Bintang dan Matahari lapor, Engkau ciptakan kami untuk bercahaya dan menerangi semesta, kami bersinar dan berhenti bersinar seperti yang Engkau kehendaki, tugas kami selesai, hakikat penciptaan kami telah kami jalankan.
Bumi, bulan dan planet lapor, Engkau ciptakan kami seperti yang Engkau kehendaki, kami berputar dan bergerak seperti yang Engkau kehendaki, tugas kami selesai, hakikat penciptaan kami telah kami jalankan.
dan datanglah, datanglah dan datanglah;
Akhirnya datanglah:
Sebagian dari mereka datang dan berkata: “Sembah hamba Ya Rabb, Engkau telah menciptakanku dari tiada, Engkau telah menghidupkanku sebelum mati, Engkau menjadikanku sebagai manusia, aku hidup di dunia seperti yang Engkau kehendaki, hamba menjadi makhluk seperti yang Engkau kehendaki, Engkau mengilhamkan kepadaku kefasikan dan ketakwaan, dan tidaklah Engkau ciptakan aku melainkan untuk menyembah kepada Engkau, tugas hamba,,,;
Kemudian tersadar ternyata sekarang aku sedang menulis, dan kalian sedang membaca tulisan ini. Karena tidak sehelai daunpun jatuh, kecuali Allah mengetahuinya, maka sekarang Allah pasti tahu bahwa kalian sedang membaca tulisan ini. Karena bumi dan seisinya tidak diciptakan dengan kebetulan, maka adalah skenario Allah menakdirkan terbacanya tulisan ini. Beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu. Allah member petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dia telah menciptakan kita dari tanah, kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian kita dilahirkan sebagai anak manusia, kemudian kita dibiarkan hidup supaya kita sampai masa dewasa, kemudian dibiarkan hidup lagi sampai tua, diantara kita ada yang diwafatkan sebelum itu, supaya kita sampai ajal yang ditentukan dan supaya kita memahaminya. Kita hendaknya memahami bahwa Matahari dan Bintang diciptakan untuk bersinar menyinari alam raya dan bumi tempat kita tinggal; memahami gunung diciptakan supaya bumi tempat kita berada tidak guncang; memahami bahwa laut ditundukkan untuk kita, agar dapat memakan daging yang segar, dan mengeluarkan dari lautan perhiasan, dan supaya kita bersyukur; memahami bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia. Maka sudahkan kita memahami untuk apa kita diciptakan?
Kita dapat mengetahui untuk apa padi di tanam, dari petani yang telah menanam padi. Kita dapat mengetahui untuk apa perahu dibuat, dari nelayan atau yang telah membuatnya. Kita dapat mengetahui untuk apa suatu benda dibuat, dari pembuatnya. Sehingga kita dapat mengetahui untuk apa kita diciptakan, dari pencipta kita.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz Dzaariyat:56)
Padi yang tidak menghasilkan padi, tentunya adalah padi yang gagal, yang tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Perahu yang tidak dapat digunakan untuk berlayar, juga adalah produk gagal yang secara fungsional tidak lagi dikatakan perahu karena tidak dapat berfungsi layaknya perahu. Suatu benda yang tidak memenuhi tujuan pembuatannya, telah gagal untuk menjadi benda yang dimaksud. Maka manusia yang telah terlahir ke dunia dan tidak menjalankan tujuan penciptaannya untuk mengabdi, beribadah dan menyembah kepada Allah, maka Ia telah gagal untuk memenuhi hakikat penciptaannya.
Dalam kalimat yang disampaikan Ustadz Syatori Abdurrauf (Pengasuh Pesantren Mahasiswi Daaru Shalihat, Yogyakarta), ‘hidup harus selesai sebelum berakhir’, yang berarti bahwa kita harus sudah memenuhi tujuan penciptaan kita, sebelum waktu hidup kita di dunia berakhir. Artinya kita harus tunduk mengabdi, taat berbakti, sujud pasrah diri, kepada Illahi Rabbi sebelum mati. Dan karena setiap kita tidak tahu kapan masing-masing kita punya sisa waktu, maka tidak ada kata nanti untuk memulai.
Karena setiap amal yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban, karena kaki akan ditanya kemana dia melangkah? Tiap pandangan mata dalam tiap detik akan ditanya pada apa saja dia melihat? Tiap gendang telinga yang bergetar dalam setiap helaan nafas akan ditanya suara apa saja yang ia dengar? Hati dan pikiran akan dihisab, apa saja yang pernah terlintas? Lidah dan kemaluan akan dipertanggung jawabkan, dan seluruh amal hidup kita akan dilaporkan.
Mahasuci Engkau Ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah melainkan Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
Wallahu’alam
(MatHYuS 070727)
*Pengurus LPM PROFESI FTI UII, periode 2003-2006
Mathyus 310707
– Dimasjid dekat tempat tinggalku, ada seorang paruh baya, yang tiap hari kamis atau malam jumat membersihkan masjid sebagai persiapan Shalat Jumat pada keesokan harinya. Beliau juga aktif sebagai pengajar dan penggerak TPA di masjid tersebut hampir tiap sore, tanpa mendapatkan bayaran/ gaji yang tetap. Sering kali beliau menjadi panitia acara-acara keagamaan dengan atau tanpa pamrih/balas jasa berupa materi. Sementara yang lain, seorang ustadz, membuka tempat mengaji untuk anak-anak, dewasa maupun orang tua yang ingin belajar membaca dan mengkaji Al-Quran secara gratis, bahkan ustadz tersebut harus mengeluarkan biaya untuk perjalanannya, fasilitas, pun juga waktu dan tenaganya. Dalam hati, kurasa mereka sedang berjihad di jalan Allah.
– Ditempat kuliah, kadang kudapati teman yang ketika terdengar Adzan, tak langsung memenuhi paggilan tersebut. Tak jarang pula, di asrama pesantren Mahasiswa tempat aku tinggal saat ini, saat adzan shubuh terdengar, ada teman yang tidak bergegas bangkit dan memenuhi panggilan tersebut, bahkan terkadang aku sendiri yang mengalaminya ; kupikir, pada saat seperti itu, kepala berat untuk melaksanakan shalat.
– Kemarin pada saat acara outbond, dan bercanda dengan seorang teman, dalam tawa terlontar ucapan:”Ayo kita berburu babi hutan”,sambil kuarahkan pandangan pada seorang temanku, dan aku menyesalinya. Juga ketika melakukan perjalanan/ longmarch bersama peserta outbond yang lain, dan melintas seorang panitia mengendarai sepeda motor disampingku, serta merta aku bernyanyi:” Orang hutan, naik sepeda motor”, dan aku menyesalinya. Beberapa saat sebelum menulis ini, aku mengambil Handphone dari tempat service, kemudian terucapkan:”Mahal banget servicenya”, dan aku menyesalinya. Tak terbayang berapa banyak sudah perkataan yang kusesali namun aku tak dapat menariknya kembali;
– Teringat suatu saat dimasa lalu pada salah satu malam ramadhan. Di dalam rumah ada beberapa makanan dan buah-buahan, tapi saat itu aku sedang berada diluar rumah bersama teman-teman, melintaslah kami didepan rumah tetangga yang didepannya terdpat pohon jambu dan rambutan. Kemudian kami mengambilnya tanpa izin dan memakannya. Pada malam yang lain, aku bersama teman-teman naik motor dimalam hari, saat melewati sebuah kebun, kami berhenti dan mengambil ubi untuk kami bakar dan kami makan. Dan entah berapa banyak lagi makanan haram yang telah masuk ke perutku ;
– Sebelum tahu tentang bank syariah, dulu aku punya rekening di bank konvensional, padahal saat itu aku sudah tahu dan meyakini tentang hukum riba.
Kemudian aku terbacakan:
Al-Baihaqy menyebutkan hadits Ar-Rabi’ bin Annas dari Abul-Aliyah dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, sehubungan dengan ayat isra’,
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagaian dari tanda-tanda (kekusasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(Al-Isra’:1)
hingga dia berkata, “Beliau diberi kuda dan beliau naik diatas punggungnya. Beliau terus berlalu yang disertai Jibril, hingga tiba disegolongan orang yang bercocok tanam dan pada hari itu pula mereka memetik buahnya. Selagi buahnya dipetik, maka ia tumbuh seperti sedia kala. Beliau bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”
Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berjihad dijalan Allah. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tujuh ratus bagi mereka. Dan, barang apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.”
Kemudian beliau melewati segolongan orang yang memecah kepalanya dengan batu. Setelah kepalanya pecah, ia kembali seperti sedia kala, dan hal itu terus menerus mereka lakukan tanpa ada sela waktunya. Beliau bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka ini?”
Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk mendirikan Shalat.”
Kemudian beliau melewati kerikil yang darinya keluar sinar yang besar. Lalu sinar itu hendak masuk lagi ke dalam batu dari bagian ia keluar, namun tidak bisa. Beliau bertanya, “Apakah ini Wahai Jibril?”
Jibril menjawab, “Seseorang mengeluarkan suatu perkataan lalu dia menyesalinya. Dia hendak menarik kembali perkataannya namun tidak bisa.”
Kemudian beliau berlalu sebentar saja, yang disana ada sebuah meja makan yang diatasnya ada daging dalam keadaan teriris-iris, yang didekatnya tak ada seorangpun. Tak jauh dari meja itu ada meja makan lain yang diatasnya ada daging yang berbau dan busuk, yang dikelilingi beberapa orang dan mereka memakannya. Beliau bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?”
Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan yang halal dan mengambil yang haram.”
Kemudian beliau berlalu sebentar saja, yang disana ada orang-orang yang perut mereka sebesar rumah. Setiap kali salah seorang diantara mereka bangkit, maka dia jatuh tersungkur, seraya berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau bangkitkan hari kiamat”.
Beliau bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?”
Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang makan riba, yang tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila.”
— (Ya Allah, jika bukan kepada Engkau Ar Rahman Ar Rahim, hamba mohon ampun, maka kepada siapa lagi hamba mohon pertolongan?
La Hawla wa la quwwata illa billah: Ya Allah aku mohon ampun atas kelalaianku, dan berilah kekuatan untuk menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu;
Ya Allah, ampunilah segala dosaku, ampunilah semua dosa-dosaku, ampunilah setiap dosa-dosaku)
~
