Mathyus 310707

– Dimasjid dekat tempat tinggalku, ada seorang paruh baya, yang tiap hari kamis atau malam jumat membersihkan masjid sebagai persiapan Shalat Jumat pada keesokan harinya. Beliau juga aktif sebagai pengajar dan penggerak TPA di masjid tersebut hampir tiap sore, tanpa mendapatkan bayaran/ gaji yang tetap. Sering kali beliau menjadi panitia acara-acara keagamaan dengan atau tanpa pamrih/balas jasa berupa materi. Sementara yang lain, seorang ustadz, membuka tempat mengaji untuk anak-anak, dewasa maupun orang tua yang ingin belajar membaca dan mengkaji Al-Quran secara gratis, bahkan ustadz tersebut harus mengeluarkan biaya untuk perjalanannya, fasilitas, pun juga waktu dan tenaganya. Dalam hati, kurasa mereka sedang berjihad di jalan Allah.

– Ditempat kuliah, kadang kudapati teman yang ketika terdengar Adzan, tak langsung memenuhi paggilan tersebut. Tak jarang pula, di asrama pesantren Mahasiswa tempat aku tinggal saat ini, saat adzan shubuh terdengar, ada teman yang tidak bergegas bangkit dan memenuhi panggilan tersebut, bahkan terkadang aku sendiri yang mengalaminya ; kupikir, pada saat seperti itu, kepala berat untuk melaksanakan shalat.

– Kemarin pada saat acara outbond, dan bercanda dengan seorang teman, dalam tawa terlontar ucapan:”Ayo kita berburu babi hutan”,sambil kuarahkan pandangan pada seorang temanku, dan aku menyesalinya. Juga ketika melakukan perjalanan/ longmarch bersama peserta outbond yang lain, dan melintas seorang panitia mengendarai sepeda motor disampingku, serta merta aku bernyanyi:” Orang hutan, naik sepeda motor”, dan aku menyesalinya. Beberapa saat sebelum menulis ini, aku mengambil Handphone dari tempat service, kemudian terucapkan:”Mahal banget servicenya”, dan aku menyesalinya. Tak terbayang berapa banyak sudah perkataan yang kusesali namun aku tak dapat menariknya kembali;

– Teringat suatu saat dimasa lalu pada salah satu malam ramadhan. Di dalam rumah ada beberapa makanan dan buah-buahan, tapi saat itu aku sedang berada diluar rumah bersama teman-teman, melintaslah kami didepan rumah tetangga yang didepannya terdpat pohon jambu dan rambutan. Kemudian kami mengambilnya tanpa izin dan memakannya. Pada malam yang lain, aku bersama teman-teman naik motor dimalam hari, saat melewati sebuah kebun, kami berhenti dan  mengambil ubi untuk kami bakar dan kami makan. Dan entah berapa banyak lagi makanan haram yang telah masuk ke perutku ;

– Sebelum tahu tentang bank syariah, dulu aku punya rekening di bank konvensional, padahal saat itu aku sudah tahu dan meyakini tentang hukum riba.

Kemudian aku terbacakan:
Al-Baihaqy menyebutkan hadits Ar-Rabi’ bin Annas dari Abul-Aliyah dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, sehubungan dengan ayat isra’,
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagaian dari tanda-tanda (kekusasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(Al-Isra’:1)
hingga dia berkata, “Beliau diberi kuda dan beliau naik diatas punggungnya. Beliau terus berlalu yang disertai Jibril, hingga tiba disegolongan orang yang bercocok tanam dan pada hari itu pula mereka memetik buahnya. Selagi buahnya dipetik, maka ia tumbuh seperti sedia kala. Beliau bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”
Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berjihad dijalan Allah. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tujuh ratus bagi mereka. Dan, barang apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.”
Kemudian beliau melewati segolongan orang yang memecah kepalanya dengan batu. Setelah kepalanya pecah, ia kembali seperti sedia kala, dan hal itu terus menerus mereka lakukan tanpa ada sela waktunya. Beliau bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka ini?”
Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk mendirikan Shalat.”
Kemudian beliau melewati kerikil yang darinya keluar sinar yang besar. Lalu sinar itu hendak masuk lagi ke dalam batu dari bagian ia keluar, namun tidak bisa. Beliau bertanya, “Apakah ini Wahai Jibril?”
Jibril menjawab, “Seseorang mengeluarkan suatu perkataan lalu dia menyesalinya. Dia hendak menarik kembali perkataannya namun tidak bisa.”
Kemudian beliau berlalu sebentar saja, yang disana ada sebuah meja makan yang diatasnya ada daging dalam keadaan teriris-iris, yang didekatnya tak ada seorangpun. Tak jauh dari meja itu ada meja makan lain yang diatasnya ada daging yang berbau dan busuk, yang dikelilingi beberapa orang dan mereka memakannya. Beliau bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?”
Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan yang halal dan mengambil yang haram.”
Kemudian beliau berlalu sebentar saja, yang disana ada orang-orang yang perut mereka sebesar rumah. Setiap kali salah seorang diantara mereka bangkit, maka dia jatuh tersungkur, seraya berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau bangkitkan hari kiamat”.
Beliau bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?”
Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang makan riba, yang tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila.”

— (Ya Allah, jika bukan kepada Engkau Ar Rahman Ar Rahim, hamba mohon ampun, maka kepada siapa lagi hamba mohon pertolongan?
La Hawla wa la quwwata illa billah: Ya Allah aku mohon ampun atas kelalaianku, dan berilah kekuatan untuk menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu;
Ya Allah, ampunilah segala dosaku, ampunilah semua dosa-dosaku, ampunilah setiap dosa-dosaku)
~