m4t 070906
Beberapa hari Abu menatah wayang. Kali ini Limbuk,istri Petruk, dan Cangik, biyung alias ibu Limbuk. setelah jadi, sehabis isya’ ia memegang wayang-wayang itu di tangannya. Disandarkannya wayang-wayang di dinding tembok kotangan. Cangik adalah suara Abu, sedangkan Limbuk suara Lastri.
Cangik : (Hati-hati, orangnya ceking, suaranya kecil). Mbuk, aku Cangik Ibumu. Bangun Nduk, bangun. (Ia mengharap ada jawaban dari rumah/kamar sebelah. Tapi tak ada suara. Ia mengeraskan suaranya). Mbuk, bangun! (Tetap tak ada jwaban). Ini masih ngambek atau memang sudah tidur ya? Eh, aku tahu kau tidak tidur. Kalau masih ngambek mbok ya bilang-bilang, jadi aku tahu.
Limbuk : (Dari rumah/kamar sebelah terdengar tawa. Orangnya gemuk, suaranya besar). Ngambek kok disuruh bilang, Biyung itu aneh. Lagi pula soal ngambek? Sudah lupa, tu.
Cangik : Lupa ya boleh, asal tidak lupa sama mas Petruk, calon misoa-mu, eh suamimu.
Limbuk : Biyung ini bagaimana to. Aku pengin dipersunting mas Gatotkaca, kok mau dijodohkan sama mas Petruk?
Cangik : Lha kalau yang melamarmu Den Baguse Petruk, apa ya tidak diberikan?
Limbuk : Dia ya, lumayan Yung. Bisa untuk memedi sawah [menakut-nakuti burung di sawah].
Cangik : Jangan dilihat rupanya, to Nduk cah ayu, yang penting kerjanya.
Limbuk : Ah, jangan saru, to.
Cangik : Saru bagaimana. Lihat misalnya cangkul. Cangkul itu bentuknya ya mesti begitu, supaya bisa nyangkul dalam-dalam. Seperti kata nyanyian ‘cangkul-cangkul yang dalam’.
Limbuk : Ayo, Biyung kok mulai miring-miring. Yang ngajari siapa? Apa Pak Dalang Tegalpandan?
Cangik : Lho, kok ngerti kalau miring-miring? Ahlinya ya?
Limbuk : Ah, bicara yang lain saja. Kan banyak yang perlu dibicarakan. Misalnya, Yung, tanyakan Mas Petruk sungguh-sungguh, Limbuk kan tidak ting-ting lagi, nanti dia menyesal.
Cangik : Aku sudah bilang sama mas Petruk. Katanya, tidak ting-ting tidak apa. Malah sudah pengalaman, bisa ngajari mas Petruk.
Limbuk : Jadi biyung sudah menerima lamaran mas Petruk?
Cangik : Sekarang ini bukan zamannya anak menurut orang tua, tapi orang tua menurut anak.
Limbuk : Aku konservatif kok Yung.
Cangik : Artinya?
Limbuk : Artinya monat-manut saja. Mas Petruk ya mau. Mas Gatot kaca ya mangga.
Cangik : Mas Gatot kaca itu sudah tunangan dengan Jeng Pregiwa-Pregiwati, kau Mas Petruk saja, ya Nduk. Bilang ‘ya’ gitu, biar hatiku puas.
Limbuk : Bagaimana lagi, kan aku sudah tua.
Cangik : Muda kinyis-kinyis begitu kok bilang tua. Umurmu berapa Nduk? Kalau tujuh belas boleh?
Limbuk : Ya, tambah, kok. Masak cuma tujuh belas? Ya, ndak boleh, kulaknya saja tidak segitu.
cangik : Kalau tiga puluh bagaimana?
Limbuk : Ya turun sedikit, to.
Cangik : Pasnya saja berapa?
Limbuk : Pasnya, mm, dua tiga.
Cangik : Itu namanya sudah klop, Nduk. Mas Petruk dua enam.
Limbuk : Umur tak jadi soal, asal tok cer.
Cangik : Ditanggung tok-cer, Nduk. Dibuktikan apa?
Limbuk : Ih, benci aku.
Cangik : Ingat, ‘gethig nyanding’, benci malah dekat lho.
Limbuk : Tapi, Yung. Mas Petruk itu enggak lucu. Dinanti-nanti Limbuk kok tidak ada kata-nya, tidak melamar atau bagaimana gitu.
Cangik : Kan sudah lewat aku?
Limbuk : Itu saja tidak cukup.
Cangik : Ya, katanya mau bilang langsung takut ditolak.
Limbuk : Ditolak bagaimana, malah dinanti-nanti.
Cangik : Ya, to? Memang mas Petruk itu kurang tanggap sasmita. Ya maklum saja, itu bawaan bayi.
Limbuk : Sebenarnya sejak dulu, sejak kulihat mas Petruk aku sudah anu, kok.
Cangik : Anu itu artinya apa?
Limbuk : Anu itu yang bikin dag-dig-dug, tratapan, deg-deg pyur itu, lho.
Cangik : Ehm, ehm. Jangan bilang gitu. Nanti mas Petruk besar kepala.
Limbuk : Aku jujur saja, kok Yung.
Cangik : Nduk, Nduk. Ini serius, aku mau tanya. Ada tawaran kepada mas Petruk untuk jadi kepala Deppen Karangmojo. Tawaran memang dari Randu, tapi tanpa komitmen apa-apa.
Limbuk : Sekarang tanpa komitmen, nanti terpaksa larut. Tak usah sajalah. Itu namanya jalan pintas. Pegawai rendahan bagian statistik kecamatan kok tiba-tiba saja jadi kepala dinas kabupaten. Bikin penyakit. Jangan politik-politikan. Itu tidak ngrejekini. Yang lumrah saja.
Cangik : Kau kok pintar, Nduk. Kau ingin jadi istri dalang, to. Bukan istri kepala dinas?
Limbuk : Istri apa saja boleh. Asal caranya betul.
Cangik : Dalang itu inkamnya tidak pasti, lho.
Limbuk : Apa inkam penjahit itu pasti? Eh, biyung. Tolong bilang sama mas Petruk. Aku tak mau dimadu.
Cangik : Yang mau beristri dua itu siapa? Mas Petruk itu, katanya, ‘Kalau dapat jeng Limbuk, ibarat makan sepiring saja pasti tidak habis’. Masak dia mau dua piring?
Limbuk : Bukan dimadu dengan orang.
Cangik : Dimadu dengan apa, Nduk.
Limbuk : Dengan apa lagi,mm ular!
Cangik : O, itu, to. (Terhenti. Lirih). Sudah kuduga, Nduk. Ya nanti kubilang.
*****
Dialog diatas adalah cuplikan dari buku ‘Mantra Pejinak Ular’, tulisan Kuntowijoyo(give from sufi cinta in my milad, jazak4JJI, akh). Novel yang bercerita tentang seorang dalang bernama Abu Kasan Sapari, yang mendapat amanat melanjutkan estafet mantra pejinak ular yang diwariskan sejak zaman nabi Nuh as. Proses dialektikanya dengan politik adalah ketika dia melamar menjadi pegawai lokal, dan ditempatkan disebuah kecamatan di kaki Gunung Lawu, ditempatkan di Bangdes (Pembangunan Desa). Dalam masa menjalankan tugasnya, Abu mengabdi pada pekerjaannya, sebagaimana moyangnya, Ronggowarsito, mengajarkan kebijaksanaan hidup. Abu Kasan Sapari bicara tentang alam, bukit, batu, langit, jin, manusia, angin dan cinta. Mungkin karena pengaruh tidak langsung dari mantra, Abu mengajarkan untuk cinta ular, sebagai simbol cinta ligkungan.
Kemudian pertumbuhan karakternya, Abu menjelaskan pandangannya tentang demokrasi melalui wayang sebagai dalang, juga tentang kepemimpinan, tentang kesenian dan politik. Pada Pilkades, Abu mendukung calon non-randu melalui ndalang. Akibatnya Abu dimutasi ke kecamatan lain. Abu sempat ditahan polisi, ulah nakal mesin politik randu, karena Abu tak mau jadi caleg randu. Akhirnya Abu memutuskan untuk berhenti berpolitik, dan memilih untuk menjadi dalang, mengajarkan kebijaksanaan hidup; dan mantra itu, Abu ingin memutus mata rantai mantra yang dianggapnya syirik, dengan tidak mengajarkan pada siapapun sampai dia mati, apapun sanksinya.
Ketika menjadi citra ideal diri sendiri terasa sulit dilakukan di tengah lingkungan dan zaman yang tidak mendukung, menjadi orang lain dengan membaca kesederhanaan, kepolosan, keluguan, kebijaksanaan, kecerdasan, kehambaan, dapat mengobati diri untuk berusaha menyadari bahwa dunia tempat kita hidup memang senantiasa terisi dari dua unsur: baik dan buruk, benar dan salah, pahala dan dosa, sebelum surga dan neraka, cinta dan benci, ridha dan murka. Dengan bukan berarti kabur dari realita menuju mimpi sementara mata terbuka. Justru berusaha membawa keluar alam dalam tidur terlahir dalam kenyataan. Bisa jadi salah satunya adalah untuk itu, kenapa kita masih bernafas hingga saat ini.
Ngebunebun enjing, anjejawah sonten? = Apa boleh melamar?



Tinggalkan Komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini