You are currently browsing the daily archive for Mei 2nd, 2008.

Oleh Al-MatPy ibnu Thalib

Dua pertanyaan yang seolah sama, padahal memuat banyak makna yang begitu berbeda:

Untuk apa Tuhan menciptakan manusia?

Untuk apa manusia hidup di dunia?

Jika Tuhan hanya menciptakan manusia, bisa saja manusia dihidupkan di surga seperti nenek moyangnya Adam dan Hawa; tapi kenapa kemudian Adam dan Hawa akhirnya hidup di dunia melalui sebuah kesalahan karena memakan buah kuldi? Kenapa Tuhan menciptakan buah kuldi? Kenapa pula kemudian buah kuldi itu ditempatkan di surga bersama Adam dan Hawa? Juga kenapa Adam dan Hawa tidak boleh memakan buah kuldi? Akhirnya kenapa Adam dan Hawa mesti memakan buah kuldi yang menyebabkan mereka diturunkan ke dunia dan dimulailah kehidupan di dunia? Kenapa tidak langsung saja manusia di ciptakan di dunia?

Tapi kita tetap bersandar bahwa Tuhan tidak ditanya tentang yang Dia lakukan, tapi kita yang akan ditanya apa yang telah kita lakukan? Mungkin juga kita akan ditanya kenapa bertanya pertanyaan seperti diatas? Bisa jadi pertanyaan seperti itu adalah bid’ah. Sehingga yang kita lakukan hanyalah berusaha mengambil hikmah. Karena setiap yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban, semoga Allah membimbing dengan hidayah.

Kesalahan yang dilakukan Adam dan Hawa menunjukan bahwa manusia memang tempatnya salah dan lupa. Adam dan Hawa akhirnya memakan buah kuldi karena pengaruh dari setan yang membisikkan kebohongan dan angan-angan pada keduanya.

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”(QS Al-A’raaf:20)

Point penting sebenarnya bukan pada buah kuldi, tapi pada hal yang dilarang dan diperintahkan Allah. Buah kuldi adalah sarana/fasilitas untuk menentukan patuh dan tidaknya Adam dan Hawa. Dalam hidup kita di dunia ini, banyak sekali ‘buah kuldi’ untuk menguji kita sebagai manusia apakah patuh, lalai atau membangkang perintah dan larangan Allah. Atas kehendak-Nya ‘buah kuldi’ ada di surge. Jika dipahami bahwa semua yang ada di surga adalah baik, Allah memberikan batasan dengan adanya buah kuldi tersebut. Allah berkehendak menciptakan sesuatu dan menetapkan sunnatullah. Adalah hak Allah untuk menentukan konsekuensi bagi Adam dan Hawa apabila memakan buah kuldi tersebut.

“…dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”(QS Al-A’raaf:12)

Karena manusia bukan malaikat, karena Adam dan Hawa bukan malaikat. Malaikat diciptakan untuk bertakwa, patuh dan tidak diberi potensi untuk membangkang, melanggar atau melawan perintah Allah. Berbeda dengan manusia yang diberi potensi patuh atau melawan, tunduk atau membangkang.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”(QS Asy Syams:8)

Justru dengan dua potensi ini manusia memiliki kesempatan untuk lebih mulia dari malaikat atau lebih hina dari setan. Kita dapat lebih mulia dari malaikat apabila kita mentaati perintah Allah, walaupun kita punya potensi untuk membangkang. Sebaliknya kita justru bisa lebih hina dari setan apabila kita melanggar larangan Allah dan tidak menjalankan perintah-Nya, sementara kita punya potensi untuk taat/takwa.

Untuk kembali menggugah kesadaran kita bahwa tiap saat setan membisikkan pikiran jahat pada kita selama hidup di dunia untuk melakukan hal yang menyebabkan kita tidak pulang ke rumah asal kita yaitu surge, tapi bisikkan setan membawa manusia tersesat menuju neraka. Sejak bangun tidur, di bisikkan jangan bangun untuk shalat shubuh, ketika makan dibisikkan untuk lupa syukur, ketika melakukan aktivitas apapun, setiap detik, setiap detak jantung, setiap hembusan nafas, setan selalu membisikkan pikiran jahat. Setiap saat setan selalu membisikkan pikiran jahat. Setiap waktu setan membisikka pikiran jahat pada kita. Kita berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Akhirnya kita tahu kenapa Adam dan Hawa tidak diciptakan dan langsung hidup di dunia. Karena memang alam dunia ini bukanlah tempat tinggal kita yang sesungguhnya. Alam dunia adalah titik awal untuk menentukan perjalanan selanjutnya apakah kita akan kembali ke tempat kita sebenarnya yaitu surge atau tersesat menuju neraka. Dunia dikatakan titik, sedangkan fase selanjutnya adalah garis tanpa ujung, karena memang dunia terbatasi oleh dimensi waktu, memiliki awal dan akhir sehingga tidak kekal. Sedangkan akhirat tak lagi terbatas waktu, sehingga disana kita kekal pada tempat tinggal kita, surge atau neraka.

“…mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”(QS Ath Thalaaq:11)

Bahkan jika hanya dibandingkan dengan fase setelah kematian menuju surge atau neraka yaitu alam kubur, di padang mahsyar (dihisab, dibagikan catatan amal, ditimbang) dan shirat, waktu hidup kita di dunia masihlah terlalu amat sangat singkat sekali.

“…(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia), melainkan hanya sesaat di siang hari,…”(QS Yunus:45)

Berkaitan dengan ini, Rasulullah SAW telah berpesan untuk kita:

1.                  Perbaharuilah perahu, sungguh laut itu dalam.

2.                  Bawalah bekal secara sempurna, sungguh perjalanan itu panjang.

3.                  Ringankanlah bawaan sungguh perjalanan menuju puncak amat berat.

4.                  Murnikan amal, sungguh Allah selalu melihat amal kita.

Ketika Abu Bakar bertanya:”Rasulullah, apa kunci keselamatan umat ini?”

Rasulullah SAW menjawab:”Orang yang menerima dariku kalimat yang aku tawarkan pada pamanku tapi dia menolaknya (dua kalimat syahadat), kalimat itu adalah kunci keselamatannya.”

 

Wallahu’alam bishawwab

 

*Pengurus LPM PROFESI FTI UII, periode 2003-2006