
Sudah 23 tahun memasuki arena pertandingan;
Beberapa tahun sudah, bel-tanda pertandingan dimulai- berbunyi;
Penonton menyaksikan, sebagian mendukung, ada yang menghina, caci maki;
Wasit dah mulai beraksi, pelatih tetap disamping;
Berkali-kali dia buat aku mencium kanvas, muntah darah, bengkak, luka, patah tulang;
Pinginnya mencintai Tuhan, yang utama dan satu-satunya, dia lancarkan serangan: Dialah wanita yang paling kamu inginkan jadi istri; BUKX! jatuh aku; bangun lagi;
Ayo mas, kuliah sana, biar dapet gelar, trus cari kerja, cari duit, bangun rumah yang bagus dan isinya, beli mobil, motor dan bangun harga diri di depan manusia-manusia lain; Jep, Jedeth, Bukx, serangan bertubi-tubi;
jadi inget adegan sebelumnya:
2003, kuliah tanpa motor:”kalo ada sepeda alhamdulillah, ada motor apalagi, apa aja deh, asal gak tua-tua amat;
2004, wuih punya Khar*sma, item lagi, cuocok neh;
2006, terus masku beli Jupite* MX, wah aku juga harus punya donk;
2008, kalo punya motorsport, Ni*ja RR atawa Ho*da CBR, mantep neh;
tahu-tahu, benjol aja ne kepala, kukira dia bermaksud membelai, ternyata bikin muka bonyok; katanya mau bantu bersihin pipi, eh bibir palah berdarah; harusnya jeli bedain gerak langkah dia, mo ngehantam apa ngelus; dikira kebutuhan, lambat laun jadi keinginan;
pernah menjabat ketua OSIS, ketua organisasi ekstra kampus, ketua panitia, PJS PemRed, and hampir jadi PU LPM, ketua santri, ketua Alumni sekolah, koordinator bidang, dlll; dia pinter memainkan tinju dan serangan antara sunnah, menjadi pemimpin yang benar, wajibnya pemimpin yang adil, dan makruhnya pimpinan karena nafsu, dan haramnya pemimpin yang zalim;
kalopun itu semua ada penangkalnya, udah bisa nangkis atawa bertahan, trus jadi ingat ceritanya Kiai Budi (dalam sebuah acara maiyyah di rumah Caknun, kasihan Bantul):
Setan:”berilah aku senjata untuk menggoda manusia”
God:”denger ya, senjatamu ada pada diri manusia: yaitu, keinginan dan kedengkian”
Setan:”Ooowh, gitu toh? Terus pelurunya apa?
God:”Neh, tak kasih harta”
Setan:”makasih, tapi kurang neh tuan”
God:”Tambah deh, pangkat, jabatan, keudukan”
Setan:”Tenkyu-tenkyu, tapi masih kurang, tambah lagi donk”
God:”Ini nih, senjata andalanmu: WANITA”
Setan: “hore-hore-hore, matur nuwun boss, ini dia andalan and pamungkasku”
(dengan redaksi yang diadaptasikan)
wanita,wanita: mulai dari yang shalihah, yang cantik, yang keliatannya shalihah, yang ancur-ancuran, yang macem-macem deh;
wanita santri, mahasiswi, anak SMA, penari striptis, artis, bintang pelm ,;;;
pada suatu malam tgl 14 Mei 2008:
Gedebag-Gedebug, Uppercat, Hook, JAP! Bak-Buk-Bek!;
Klenger and terkaparlah aku; berdarah-darah, bonyok neh muka, merah mata neh, sakit;
dan,,,, (dalam tayangan lambat, biar dramatis) mata terpejam dalam, tangan mengepal, urat menegang, semangat membara, kekuatan terkumpul; lalu mata terbuka melotot mancari mangsa, lalu bangkit berdiri,
:”Setan!!!!!!!!!”
Ciaaaat, hap-hip-hup, siaat buk-bek-buk;
“NOW IS MY LAST TEMPTATION!”
padahal bel -tanda pertandingan berakhir- belum berbunyi; dan entah kapan bel itu akan berbunyi;
juga tak tahu, berapa kekuatan lawan, sudah keluar semua, masih setengah, atau dia cuma main-main;
tapi harus selalu berdoa:
“Ya Allah, berilah keteguhan iman pada hamba,
sehingga dapat bertakwa kepadaMu,
menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu,
lindungilah hamba dari godaan Setan yang terkutuk, bimbinglah hamba,
berilah petunjuk, rahmat, hidayah dan inayah-Mu”
~



2 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
17 Mei 2008 pada 5:44 pm
matituaku
Ternyata:
16 Mei, terkapar lagi, Stari H P
!!!!!
23 Mei 2008 pada 11:41 pm
matituaku