“Koq di borong?” tanyaku ma Sulton;

tentunya dijawab dengan senyum olehnya, dan tawa dua orang temanku abul dan fauzan juga Bapaknya sulton;
sudah 10 hari sulton di Rumah Sakit, and (parahnya) baru hari ini aku sempat menengoknya;

males? Insya4wi sama sekali enggak;

gak bisa? sebenernya sih bisa;

sibuk? bukan alasan, walaupun iya;

so, sory begete yo;

tapi aku salut, melihat senyummu itu lho, walaupun dalam keadaan kayak gitu; kamu bilang, jenuh, bosen, suntuk, kayak burung terpenjara di sangkar; semoga besok kamu dah boleh pulang;

nah abul ma fauzan neh yang lucu:

abul: moso gak bisa cari jalan ke masjid?

fauzan: gak berani keluar lift di lantai 4 & 5 gedung “permata hati”;

ceritanya kami pingin liat bayi-bayi yang ada di inkubator; dari lantai 2, kami masuk lift, dan suer, tombol angka tiga ku tekan, tapi? lift tak berhenti di lantai 3; bablas lantai4, and pas kebuka: what? guelap man! dalam gerak lambat dan hati-hati, aku ma abul ngelongok (bahasa apa ne?) lorong gelap itu sementara fauzan tetap di tempatnya, belum juga semua tubuh kami keluar dari lift; “brek” (emang bunyinya gini?) pintu lift mau nutup lagi; jadi weh, aku ma abul loncat and teriak masuk ke lift lagi; dan fauzan ketawa dengan ekspresi ketakutan (gimana ya ekspresinya? gitu dech); penasaran, kupencet juga tombol angka 5,so, kami naik ke lantai 5; and: adegan tadi terulang lagi, coz lorongnya juga gelap, lebih gelap dari lantai4; abul sempat mau di dorong and ditinggalin di lantai5, but dia berontak;

mbul;;;; mbul;;; “Pake sandal koq cuma satu?”

padahal sandalnya ku umpetin, hehe9x

cepet sembuh ya ton;;;