Senin, 11 Agustus 2008 ceritanya baru pulang kampung bareng Fauzan yang silaturahmi ke saudaranya di Banjar Patroman. Rencananya hari selasa ( 12 Agustus 08 ) mau jalan-jalan ke pantai Trisik sekaligus main ke lokasi KKN Ananto teman sekamarku, tapi  karena gak tahu tempat dan jalan, maka urung dilakukan. Lha koq hari kamis, menjelang Dzuhur, Ananto datang dari Lokasi KKN-nya. Setelah diinterogasi, katanya mau segera balik lagi sekitar jam 2 siang. Yaudah, langsung aja dikoordinasikan, singkat cerita berangkatlah Aku, Ananto, Udig, Fauzan, Abul dan Eko.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 40-50 Km, sampailah kami di lokasi KKN Ananto di tepi Sungai Progo sekitar jam setengah empat. Setelah shalat Ashar dan mampir di Posko, kami menuju pantai. Setelah sampai di bibir pantai, Ananto balik lagi ke lokasi karena harus ngajar TPA, dan kami segera tak terkendali untuk menikmati keberadaan kami menginjak butir-butir pasir lembut diirngi debur ombak dan tatapan matahari senja yang menatap kami malu-malu.


Sekitar jam lima Ananto muncul lagi, kemudian kami berpindah tempat menuju muara sungai Progo. Disana ada semacam pondasi untuk membangun jalan sampai memecah ombak. Disitulah kami berpelukan dengan angin laut sore yang erat memeluk kami, sementara ombak tampak seperti gadis yang cinta mati ingin memeluk kami tapi tak pernah kesampaian karena beton-beton yang gagah melindungi kami. Disinilah aku berteriak sesuka-sukanya sampe seolah seisi tenggorokan keluar walau pita suara seperti pecah pecah belah. Sok jadi Fandy dalam film ‘Kiamat Sudah Dekat’ saat adegan di pantai dan berteriak:


“Allah, aku tidak meragukan kekuasaan-Mu, ombak di lautan-Mu yang tenang ini bisa seketika kau buat menjadi ombak yang besar dan menenggelamkan segala yang terapung diatasnya, aku tidak meragukan-Mu, bahkan bila Kau berkehendak Engkau juga bisa membuat matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur, tidak ada yang sulit buat-Mu Allah, jadi apa susahnya Engkau melumerkan kekerasan hati -tuuuuuuutttt- (disensor) dan menjodohkanku dengannya, please Allah, please,,, (kemudian hening sejenak, suara ombak  menghempas karang mengambil alih, dengan ketundukan  hati,,,) please!”


Bisa jadi karena aksi teriak-teriakan ‘obsesi artis’ ini, maka suaraku sempat menghilang bahkan hingga tadi sore waktu pendadaran, suaraku masih serak-serak basah. Pendadaran? Yah, ketahuan deh kenapa postingnya jadi telat~