You are currently browsing the monthly archive for Maret 2009.
Setiap yang berawal, pasti berakhir;
segala yang tiada lalu ada, maka pasti kembali tiada;
semua langkah perjalanan diawali satu langkah dan diakhiri satu langkah akhir;
dalam hal kuliah, skripsi atau tugas akhir adalah sebuah langkah akhir, finishing touch, last step (walah, sok english);
memang penting seh, tapi kalo udah menyebabkan lewat Shalat berjamaah, atau menyebabkan ada amalan sunnah utama yang terlewatkan, bukankah itu sudah berlebihan, sayangnya itulah yang sempat kualami.
Masa masalah duniawi mengalahkan masalah ukhrawi, akankah kupentingkan sementara daripada yang selamanya? kayaknya GAK deh!
Kamis, 21 Agustus 2008,
pkl 22.30
Setelah memastikan sistem dapat berjalan dengan baik, acara selanjutnya yaitu: Nonton Film. “The Secret of Genghis Khan” jadi santapan malam pendadaran. Jam 02.00 baru terlelap.
Jumat, 22 Agustus 2008,
pkl 04.30
Shalat Shubuh, Ngaji. Agenda selanjutnya: Pelajari laporan, buka source code, kuasai materi? ternyata tidak . ehhhhh palah tidur lagi, and baru bangun 11.30.
pkl 12.30
Pulang jumatan, gak banyak yang bisa dilakukan, cuma persiapan akhir sedikit. Yang ada justru nyalain lagunya Izzatul Islam macam ‘Mars mujahid’, ‘Mars Pemuda Islam’, terus lagunya Shoatul Harokah New Aransemen seperti ‘Palestina Tercinta’, ‘Lirih Pembebas’, ‘Ini Langkahku’ dan lagu andalan ‘Ar Ruhul Jadid’, waktu lagu andalan menggelegar, tanganku sudah mengepal dan teracung-acungkan, tubuh lonjak-lonjak, kepala mengangguk-angguk, kadang pinggul bergoyang-goyang bagai penyanyi dangdut, atau tangan bergerak-gerak asereje, sementara kaki bergoyang poco-poco; pokoknya gitu deh, maksudnya meniru tarian sufi Rumi atau tarian Modigliani untuk mengusir demam ‘pendadaran’.
pkl 13.30
Berangkat ke kampus dengan beberapa harapan:
1. Dosen pengujinya bukan pak AS, secara nih dosen pinter banget, wawasannya luas, kuliah S2 di Singapura dan termasuk dosen favoritku. Tapi untuk menjadi dosen pengujiku, jelas enggak dong, kebantai nanti aku.
2. Semoga juga bukan Pak SH, secara nih dosen teliti and jeli melihat celah dan membaca kelemahan lawan, juga ahli menghancurkan mental, bikin drop, atau minimal mematahkan argumentasi dengan teknik dan strategi retorikanya yang (halah-halah, sudah-sudah).
3. Harapan lainnya, selama pendadaran tidak menyentuh source code, secara aku gak paham betul coding-nya.
Sampai dikampus, parkir motor, liat jam: 14.00. Masih ada waktu, kugunakan untuk baca-baca koran. Eh, Fadly menepuk pundakku dan menemaniku lihat peserta PETA (Pekan Taaruf) ospek fakultas yang apke seragam sama denganku: celana hitam, baju putih +dasi warna hitam. Aku pura-pura nemenin temen lain yang juga pendadaran di Ruang2, seolah aku gak pendadaran, tapi cuma nemenin, padahal, selanjutnya di Ruang 1 giliranku.
pkl 14.30
Show Time! Masuk ruang sidang, tak ada seorangpun. Kugunakan untuk mempersiapkan presentasi. Tapi sengaja ada beberapa hal yang kulewatkan, tujuannya biar nanti bisa untuk mengulur-ulur waktu (entah ini disebut curang, teknik, strategi, trik, tapi aku lebih menyebutnya siasat; lalu apakah salah atau benar, halal atau haram, sah atau tidak?). Beberapa saat kemudian Pak Y, ketua jurusan masuk ruangan. “Alhamdulillah, minimalnya satu harapanku terwujud,” batinku. Pak Y menuju jendela dan senyam-senyum melihat aksi peserta ospek memeragakan Yel-yel dengan irama lagu Jablay. Kemudian berlalu meninggalkan ruangan setelah bertanya singkat:”Ujian mas?”; Glek; Selang sekian menit, pak TH, dosen pembimbingku yang dalam waktu dekat akan melanjutkan studi S3 di Jerman setelah sebelumnya S2 juga di Jerman, memasuki ruangan. Diikuti Pak SH menenteng fotocopy laporan skripsiku: Fiuhhh, satu harapanku pupus. Disusul Pak AS juga memasuki ruangan, kemudian menutup pintu dari dalam: Fiuuuuhhhh, satu lagi harapanku sirna. Kuambil hikmah positif: Allah sebagai pengatur semua ini, menetapkan dosen-dosen terbaik untuk mengujiku, berarti aku memang cukup baik untuk dapat lolos dengan penguji-penguji yang terbaik. Ok, jadi ingat kata-kata semalam yang kusampeiken pada Fauzan: “Take it Easy!” dalam hati: “God With Me”
Dengan backsound suara panitia dan yel-yel peserta lewat pengeras suara, Pak TH membuka sidang. Diakhiri kalimat:”Silahkan memulai presentasinya, dengan mengeraskan suara supaya tidak kalah dengan suara diluar.”
Setelah salam dan menyapa dosen pembimbing dan penguji, kusampaikan juga bahwa suaraku memang sedang serak, kupikir mungkin sisa jalan-jalan ke Trisik minggu lalu, ditambah sering lembur, kecapean dan stress mempersiapkan nih telor pendadaran.
Sedianya waktu untuk presentasi adalah 20 menit dan tanya jawab 50 menit, tapi, belum juga 20 menit ku presentasi, pertanyaan menyerang dari sisi Pak AS. Masalah setting manual terminal, kemudian database da akhirnya menjurus ke: Source Code! Fiiiiiuuuuuuuuhhhhhhhhh; kembali kuambil hikmah positif: Allah kan Maha Tahu, dia tahu seberapa tangguhnya aku, maka supaya imbang, ditunjukkanlah titik kelemahanku, biar pertandingan jadi seru. OK, Lets Fight!
Kulihat Pak AS bertanya dengan wajah senyum, aku harus menjawab dengan senyum yang lebih dahsyat; dan ternyata berhasil, kalaupun terjadi tanya jawab alot, landasannya bukan aku disini dan dia disana, tapi kita sama-sama disini. Alhamdulillah, senyum menyelesaikan kemelut awal sebelum semakin dalam menelanjangi source code. Harapanku tak tersisa, selain harapan untuk diberikan takdir yang terbaik, dengan kukerahkan ikhtiar terbaikku. Jam Digital di pojok kanan bawah layar monitor laptop-ku seakan berhenti tak berubah, kalaupun berubah, rasanya lebih lama dari biasanya. Sepertinya tentara Allah berdatangan menyertaiku, tentara takdir, tentara yang mengendalikan apa yang manusia pikirkan, tentara yang menentukan apa yang manusia rasakan, tentara yang menguasai apa yang manusia inginkan dan beribu tentara lainnya.
Selanjutnya, Pak AS keluar, kemudian kembali masuk membawa Laptop, wah begitu hebatnyakah aku, sampai-sampai Pak AS harus bawa Laptop segala untuk mengujiku, jangan-jangan nanti akan membawa bertumpuk-tumpuk buku tebal sebagai referensi dan acuan serta dasar argumentasi untuk mematahkan teori yang ada dalam laporanku. Ups, ternyata aku Kege-eran, karena sayup-sayup terdengar Pak AS bicara dengan Pak TH tentang jadwal kuliah. Hehehe gak ada hubungannya dengan sidang ini tho? Eh, Pak TH palah melongok ke jendela ngeliat ospek; weleh-weleh, asyik nih, kita cukupken sampai disini aja yo, batinku. Sengaja kubiarkan mereka asyik dengan urusannya, sampe-sampe pak TH tanya ma kedua dosen yang lain:”Gimana nih”, Pak AS terus berhadapan dengan Laptopnya. Pak SH melanjutkan dengan revisi laporan yang buanyaaaak. Pak TH menyoroti laporan tanpa tanda tangannya.
At Last, aku disuruh keluar. Diusir tho? Enggak, cuma suruh nunggu diluar sementara para penguji berdiskusi tentang kelulusan. Diluar ada Fadly yang setia menemani dan mendukungku. Kulihat dua kelinci bermain saling berkejar-kejaran, apa mereka lagi pacaran? Lha ternyata kulihat dia. Tuan putri berjalan disi lain gedung. I see my princess!
Pak AS memanggilku. Didalam ruangan Pak TH mengucapkan rangkaian kata-kata yang salah satunya berbunyi:”…ANDA DINYATAKAN LULUS,,,” Kemudian aku mengucapkan terimakasih pada Pak TH, dosen pembimbingku yang buaik, trus Pak SH dan Pak AS. Pak AS bilang:”Masih di DeHa?” Aku langsung tahu maksudnya, karena aku pernah melihat kalender dengan gambar beliau sebagai moderator, sementara Ust Tulus (Pengasuh Daaru Hiraa) sebagai pembicara di acara Tarbiyah Tsaqofiyah. Mungkin dia lihat jaketku yang kebetulan kupake adalah jaket Daaru Hiraa, atau mungkin baca ucapan terima kasihku yang didalamnya terselip banyak nama ustadz termasuk Ust Tulus. Ooohhh, mungkinkah karena itu, beliau senyum ketika bertanya, dan tak mengoreksi laporanku? Wallahualam, seperti kata Andrea Hirata:”Lingkaran Episiklus Alam Semesta”.
Keluar ruangan, kemudian berjumpa Presiden LEM dan Ketua DPM FTI, yang semuanya adalah rekan organisasi ekstra di HMI FTI. Tak lupa misi utama:mencari princess, dan yes, ketemu, maka tak kusia-siakan untuk mencuri fotonya dengan Handphoneku. Kemudian berlalu dan ketemu mantan Pemimpin Umum LPM PROFESI sekaligus Pemimpin Umum LPM PROFESI yang sekarang. Menuju tempat parkir dan meninggalkan area FTI. Sayup-sayup terdengar teriakan peserta ospek:”AKU CINTA FTI! AKU CINTA UII!”
NB: Sampai asrama, kemudian aku ditemani Udig, Uut, Eric, Sulton dan Fauzan makan di Bukit Indah Piyungan Jl Wonosari. Setelah itu maksudnya mau langsung renang, tapi sampai kolam renang UNY: Tutup, kolam renang seturan: Tutup juga; so, go home and see the movie~
