Oleh Abocks Pynthone
Bumi berputar, waktu berjalan mengantarkan hari menuju senja. Cahaya matahari perlahan menjauh dan menghilang di langit barat, meninggalkan belahan bumi yang sekarang ku pijak. Rintik air hujan menyapa malam hari yang gelap di kampungku. Sepi sendiri dengan hening tatapan kosong mengantarku tenggelam dalam angan dan kenangan. Aku terduduk diatas puing- puing rumahku, mengingat apa yang telah terjadi sejak kejadian pagi itu.
***
Aku terbangun secara tiba-tiba dari lelapku, mendengar teriakan Ayah yang menyuruhku segera keluar rumah. Belum lengkap nyawaku terkumpul dalam kesadaranku, reflek naluriku membawa tubuhku segera berlari keluar kamar, dan segera menuju pintu keluar. Bumi yang berguncang menghilangkan keseimbanganku, hingga aku terbentur dinding dan terjatuh. Segera ku berusaha berdiri dan berlari keluar rumah. Aku mendapati Ibuku dengan wajah yang panik dan langsung memelukku. Getaran bumi terus memaksa kami berkonsentrasi agar tetap berdiri. Aku dapat menyaksikan genting rumahku yang mulai meluncur berjatuhan. Sesaat kemudian Ayah berlari dengan menggendong adik perempuanku yang baru berusia 5 bulan, dan segera memberikannya pada pelukan Ibuku. “Onne!! Onne!! Di kamar mandi..” teriak Ibuku menyebut adikku yang berusia 10 tahun.
Ayahku kembali berlari masuk rumah menerjang genting dan material rumah yang berjatuhan. Rangka rumahku untuk pertama kalinya kulihat bergoyang kekanan dan kekiri. Dalam cemas saat menanti keluarnya Ayah dan Adikku, tiba-tiba tiang penyangga depan rumahku patah. Ibuku berteriak histeris memanggil Ayah. Tapi teriakkannya terlupakan suasana panik yang menyelimuti. Dalam keadaan bingung, dapat terdengar suara takbir dari tetangga yang berhamburan keluar rumah. Tapi bumi tak berhenti berguncang, dan rumahku akhirnya menyerah untuk tetap berdiri, seluruh bangunan rumahku roboh rata dengan tanah. Ibuku menangis dan berlutut memelukku.
Tanah tak terasa lagi bergetar, saat Ibu menyuruhku menggendong Adikku. Ibu lalu berjalan menyusuri puing-puing rumah dan berusaha mencari Ayah dan Adikku. Beberapa tetangga yang melihat kepanikan Ibu ikut membantu. Beberapa menit kemudian tangis Ibu meledak, mengikuti langkah beberapa tetangga yang membopong tubuh Adikku yang ternyata sudah tak bernyawa. Dalam keadaan seperti ini, tak terasa air mataku mengalir. Lalu semakin banyak tetangga yang berdatangan ikut membantu. Ayahku akhirnya dapat dikeluarkan dari reruntuhan dengan luka yang cukup parah. Wajahnya tertutup banyak darah yang masih terus mengalir. Dengan cepat warga menolong dengan kekuatan dan peralatan seadanya. Selang waktu kemudian Ayah diangkat dan dibawa ke Jalan Raya yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahku.
Tengah hari, setelah Shalat dzuhur, Aku dan Ibuku menuju Rumah Sakit diantar oleh warga yang tadi ikut membawa Ayah. Dengan menggunakan sepeda motor akhirnya kami sampai di depan Rumah sakit. Di tempat parkir ternyata sudah dipenuhi banyak korban baik yang luka kecil maupun parah. Memasuki teras rumah sakit, terlihat sekitar belasan tubuh yang tertutup kain seluruh tubuhnya, meninggal dunia. Setelah berjalan cukup berliku, memasuki beberapa ruangan dan bertanya pada beberapa perawat maupun dokter, kami berjalan berbalik arah dan melewati jalan yang tadi kami lalui. Kemudian bertemu dengan warga lainnya yang tampaknya sedari tadi disini. Kemudian dengan cepat Ia mengantar kami ke tempat Ayah berada. Kutahu bahwa kami berjalan kearah keluar rumah sakit. Langkah kami tiba-tiba berhenti didepan deretan jasad yang tadi kami lalui. Ibuku dan warga lainnya membuka kain penutup dibagian kepala satu persatu. Jantungku mulai berdetak lebih kencang dan cemas menanti apa yang terjadi, ketika kemudian terdengar suara tangis Ibu, Ayahku meninggal dunia kehabisan darah, dan karena parahnya luka dikepala. Jasad Ayah dan Adikku dimakamkan esok paginya.
Hari-hari selanjutnya kami lalui di tenda darurat yang dibuat warga secara gotong royong. Di tenda ini di tempati warga yang rumahnya hancur total dan tak bisa dihuni lagi. Di dusunku, yang terdiri dari lima Rukun Tetangga (RT) dengan 300 kepala keluarga dan sekitar 1.250 jiwa, hampir sebagian besar bangunannya rusak berat. Dari sekitar 300 rumah, hanya sekitar 30 yang masih berdiri utuh, sisanya hancur total dan rusak berat hingga tidak bisa dihuni lagi. Besarnya warga yang kehilangan tempat tinggal menyebabkan tenda darurat tak mampu lagi menampung. Maka pos ronda, masjid, sekolah atau lapangan terbuka menjadi tempat tinggal sementara. Sudah tiga hari aliran listrik tidak mengalir sejak gempa melanda.
Hingga hari ketiga, bantuan dari pemerintah belum juga datang walaupun pendataan oleh pemerintah desa dan laporan pada pemerintah daerah sudah dilakukan sejak hari pertama, justru dari relawan institusi atau lembaga tertentu yang datang dengan membawa bantuan logistik seadanya. Satu hari setelah gempa, warga berinisiatif membuat dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan secara swadaya dengan gotong royong. Tapi persediaan warga langsung habis pada hari itu juga. Hari-hari selanjutnya, warga mengandalkan kebutuhannya dari bantuan yang datang. Sebungkus mie instant, atau sebotol air mineral sangat berarti untuk menyambung hidup warga yang kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian bahkan anggota keluarga.
**
Dari Mushola berkumandang suara adzan maghrib yang terdengar tidak seperti biasa, karena tidak menggunakan speaker. Tersadar dari lamunan, aku membuka nasi bungkus yang didapat dari posko darurat di dusunku, lalu melahapnya sebagai santapan buka puasa. Dalam keadaan gelap aku tak dapat melihat jelas apa lauknya, bahkan setiap suap aku tak tahu mana nasi, sayur atau lauknya. Tapi yang jelas sebungkus nasi ini dapat mengisi perutku dan menyambung hidupku. Hari ini aku sengaja berpuasa, karena dua hari kemarin, aku dan Ibuku kesulitan mencari makan. Suap demi suap makanan yang masuk mulut dan ku kunyah, mengalihkan perhatianku bahwa ternyata sudah tiga hari aku mandi tanpa sabun dan peralatan lainnya. Luka di kakiku karena menginjak paku, dan lecet ditanganpun terlupakan. Bahkan sejenak kuterlupakan bahwa senyum manja Adikku tak dapat kusaksikan lagi, juga Ayah yang selama ini menghidupi keluarga.
Bungkus nasi dari kertas dan daun pisang kuremas erat setelah isinya ku santap habis. Aku maju beberapa langkah, keluar dari teduhku, merasakan bulir-bulir hujan yang meraba wajahku. Sekejap terpejam, sekejap kemudian kutengadahkan muka pandangi langit. Kenapa semua ini terjadi? Apakah semua ini harus terjadi? Apa yang menyebabkan ini harus terjadi? Dan untuk apa? Kegelapan malam dan suara tetes air hujan yang menjawab dengan kesunyian dan gemericik air yang menghantam tanah dan puing-puing rumahku. Gempa ini terjadi memang karena tumbukan dua lempeng, tapi kenapa dua lempeng ini bertumbukan? Ketika nabi Musa mengangkat tongkatnya ditepi sungai Nil, sebuah benda langit memang bergerak melintas mendekati orbit bumi hingga gravitasinya menyebabkan air sungai nil terbelah, tapi kenapa benda langit itu bergerak dengan lintasan mendekati orbit bumi, pada waktu dan tempat yang telah ditentukan? Aku membuang remasan bungkus nasi di tumpukan sampah. Dalam hati kuyakin: Ini semua terjadi, karena Tuhan berkehendak demikian, dan Dia tidak bermain dadu.
Suara Iqomat mengiringi langkahku berjalan menuju mushola. Wajah-wajah manusia dengan senyum tanpa beban dan keluh kesah berpapasan, dan berjalan beriringan bersama menghadap Tuhannya. Bumi dapat berguncang, tapi tidak dengan jiwa kami. Bangunan dan rumah kami dapat hancur dan porak-poranda, tapi tidak dengan keimanan kami. Harta dan atau anggota keluarga bisa meninggalkan kami, tapi tidak dengan Tuhan kami, karena kami tahu bahwa Dia tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan dia tidak sekedar tahu apa yang terjadi di Yogyakarta, 27 Mei 2006. (PY)



Tinggalkan Komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini