You are currently browsing the daily archive for 22 Februari 2011.

“Maksud kedatangan saya kesini,,, sebenarnya ada ‘maksud’ dengan rhei; jika bapak berkenan, semoga kami berjodoh, dan bapak jodoh dengan saya, sebagai mertua dan menantu”;
akhirnya kalimat itu terucap juga, setelah beberapa kali menghela nafas panjang dan dalam, setelah sekian malam jadwal tidur terganggu, setelah bertetes-tets keringat mengucur, dan tempo cepat degup jantung berdetak.
sekilas mata kami saling bertatapan, kemudian mataku menatap ruang kosong diantara kami. Matanya kemudian menerawang langit-langit, kutahu tak ada yang dia cari dilangit-langit rumahnya ini, yang dia cari adalah sebuah benda bernama keputusan dilangit hatinya.
“Jika itu yang mau kamu sampaikan,,,” beliau tersenyum sambil menatap lembut; “beri kami waktu beberpa hari, saya perlu berdiskusi dengan rhei.”
seminggu berselang, tiap mentari bangkit dari malam, ku selalu berharap dia membawa berita terang tentang jawaban ayah rhei atas lamaranku untuk menikahi rhei, tanpa melalui rangkaian dosa dalam hubungan terlarang. Siang terik ini terasa sejuk, jika terbayang jalinan suci pasca akad. Dari bawah pohon randu, di taman kampus, kulihat beberapa pasang manusia berjalan berdampingan bergandengan tangan.
“assalamualaikum,” suara lembut seorang hawa menyapaku dari belakang. Kupaingkan arah pandangku. Berdiri sosok anggun dengan balutan jilbab besar warna ungu, baju gamis yang terjulur hingga telapak kaki dengan warna yang hampir sama dengan jilbab yang dia kenakan. Wajahnya segera tertunduk, sesaat setelah dia menyadari, pandanganku mengamati raut yang tak biasa diwajahnya.
“Rhei???” tanyaku sambil tersenyum.
Dia kemudian duduk beberapa langkah disampingku, ditembok pembatas jalan. Tak seperti biasa, dia selalu tertunduk, tanpa senyum, tatapannya terbuang kesegala arah, mencari sesuatu yang hilang dalam pikirannya.
“ada apa?” tanyaku lembut.
Tubuhnya terlihat bergetar. Kemudian dia memaksakan menatapku. Melihat mata dan wajahku, namun genangan air di matanya yang kutangkap.
“Mau ngasih ini,” jawabnya singkat sambil terisak, mengulurkan tangan memegang amplop berwana kuning.
“assalamualaikum,” cepat dia berpamitan, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berlalu pergi.
Tiga hari berikutnya, sudah berpuluh-puluh kali aku baca berulang-ulang surat yang dia buat. Isinya berlembar-lembar, hingga belasan lembar, tepatnya 17 lembar.
Intinya adalah orangtuanya tidak setuju, walaupun dia sudah berusaha sangat gigih merayu, membujuk dan meyakinkan ayahnya bahwa aku adalah orang yang selama ini dia harapkan untuk menjadi suaminya, pembimbing kehidupannya untuk menjadi hamba Allah yang diridhai, umat Muhammad yang diberkati, dan istri shalihah yang dicintai.
alasan yang masih sulit kupahami adalah alasan Ayahnya, karena aku mengenakan celana diatas mata kaki dan bejenggot. Kata ayahnya, itu tidak pas dengan kultur kampung dimana ayahnya menjadi imam masjid di kampung tradisional itu.
Sekitar empat tahun berikutnya. seorang teman bercerita, bahwa rhei sudah menanggalkan jilbab besarnya, tidak hanya itu, sekarang rhei menutup aurat kepalanya hanya bila diharuskan atau menghadiri acara khusus, sehari-hari keluar rumah, atau jalan-jalan santai biasa, Rhei telah menanggalkan mahkota jilbabnya. Satu hal lagi yang sangat memukul telak kekagetanku adalah kenyataan, bahwa sekarang rhei telah tinggal dengan lawan jenis, seorang lelaki yang dia sebut pacarnya, dalam satu rumah, tanpa ikatan pernikahan.

Language

 

Februari 2011
S S R K J S M
« Okt   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Photos

More Photos
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.