You are currently browsing the category archive for the 'qalam' category.
Oleh Al-MatPy ibnu Thalib
Dua pertanyaan yang seolah sama, padahal memuat banyak makna yang begitu berbeda:
Untuk apa Tuhan menciptakan manusia?
Untuk apa manusia hidup di dunia?
Jika Tuhan hanya menciptakan manusia, bisa saja manusia dihidupkan di surga seperti nenek moyangnya Adam dan Hawa; tapi kenapa kemudian Adam dan Hawa akhirnya hidup di dunia melalui sebuah kesalahan karena memakan buah kuldi? Kenapa Tuhan menciptakan buah kuldi? Kenapa pula kemudian buah kuldi itu ditempatkan di surga bersama Adam dan Hawa? Juga kenapa Adam dan Hawa tidak boleh memakan buah kuldi? Akhirnya kenapa Adam dan Hawa mesti memakan buah kuldi yang menyebabkan mereka diturunkan ke dunia dan dimulailah kehidupan di dunia? Kenapa tidak langsung saja manusia di ciptakan di dunia?
Tapi kita tetap bersandar bahwa Tuhan tidak ditanya tentang yang Dia lakukan, tapi kita yang akan ditanya apa yang telah kita lakukan? Mungkin juga kita akan ditanya kenapa bertanya pertanyaan seperti diatas? Bisa jadi pertanyaan seperti itu adalah bid’ah. Sehingga yang kita lakukan hanyalah berusaha mengambil hikmah. Karena setiap yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban, semoga Allah membimbing dengan hidayah.
Kesalahan yang dilakukan Adam dan Hawa menunjukan bahwa manusia memang tempatnya salah dan lupa. Adam dan Hawa akhirnya memakan buah kuldi karena pengaruh dari setan yang membisikkan kebohongan dan angan-angan pada keduanya.
“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”(QS Al-A’raaf:20)
Point penting sebenarnya bukan pada buah kuldi, tapi pada hal yang dilarang dan diperintahkan Allah. Buah kuldi adalah sarana/fasilitas untuk menentukan patuh dan tidaknya Adam dan Hawa. Dalam hidup kita di dunia ini, banyak sekali ‘buah kuldi’ untuk menguji kita sebagai manusia apakah patuh, lalai atau membangkang perintah dan larangan Allah. Atas kehendak-Nya ‘buah kuldi’ ada di surge. Jika dipahami bahwa semua yang ada di surga adalah baik, Allah memberikan batasan dengan adanya buah kuldi tersebut. Allah berkehendak menciptakan sesuatu dan menetapkan sunnatullah. Adalah hak Allah untuk menentukan konsekuensi bagi Adam dan Hawa apabila memakan buah kuldi tersebut.
“…dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”(QS Al-A’raaf:12)
Karena manusia bukan malaikat, karena Adam dan Hawa bukan malaikat. Malaikat diciptakan untuk bertakwa, patuh dan tidak diberi potensi untuk membangkang, melanggar atau melawan perintah Allah. Berbeda dengan manusia yang diberi potensi patuh atau melawan, tunduk atau membangkang.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”(QS Asy Syams:8)
Justru dengan dua potensi ini manusia memiliki kesempatan untuk lebih mulia dari malaikat atau lebih hina dari setan. Kita dapat lebih mulia dari malaikat apabila kita mentaati perintah Allah, walaupun kita punya potensi untuk membangkang. Sebaliknya kita justru bisa lebih hina dari setan apabila kita melanggar larangan Allah dan tidak menjalankan perintah-Nya, sementara kita punya potensi untuk taat/takwa.
Untuk kembali menggugah kesadaran kita bahwa tiap saat setan membisikkan pikiran jahat pada kita selama hidup di dunia untuk melakukan hal yang menyebabkan kita tidak pulang ke rumah asal kita yaitu surge, tapi bisikkan setan membawa manusia tersesat menuju neraka. Sejak bangun tidur, di bisikkan jangan bangun untuk shalat shubuh, ketika makan dibisikkan untuk lupa syukur, ketika melakukan aktivitas apapun, setiap detik, setiap detak jantung, setiap hembusan nafas, setan selalu membisikkan pikiran jahat. Setiap saat setan selalu membisikkan pikiran jahat. Setiap waktu setan membisikka pikiran jahat pada kita. Kita berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.
Akhirnya kita tahu kenapa Adam dan Hawa tidak diciptakan dan langsung hidup di dunia. Karena memang alam dunia ini bukanlah tempat tinggal kita yang sesungguhnya. Alam dunia adalah titik awal untuk menentukan perjalanan selanjutnya apakah kita akan kembali ke tempat kita sebenarnya yaitu surge atau tersesat menuju neraka. Dunia dikatakan titik, sedangkan fase selanjutnya adalah garis tanpa ujung, karena memang dunia terbatasi oleh dimensi waktu, memiliki awal dan akhir sehingga tidak kekal. Sedangkan akhirat tak lagi terbatas waktu, sehingga disana kita kekal pada tempat tinggal kita, surge atau neraka.
“…mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”(QS Ath Thalaaq:11)
Bahkan jika hanya dibandingkan dengan fase setelah kematian menuju surge atau neraka yaitu alam kubur, di padang mahsyar (dihisab, dibagikan catatan amal, ditimbang) dan shirat, waktu hidup kita di dunia masihlah terlalu amat sangat singkat sekali.
“…(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia), melainkan hanya sesaat di siang hari,…”(QS Yunus:45)
Berkaitan dengan ini, Rasulullah SAW telah berpesan untuk kita:
1. Perbaharuilah perahu, sungguh laut itu dalam.
2. Bawalah bekal secara sempurna, sungguh perjalanan itu panjang.
3. Ringankanlah bawaan sungguh perjalanan menuju puncak amat berat.
4. Murnikan amal, sungguh Allah selalu melihat amal kita.
Ketika Abu Bakar bertanya:”Rasulullah, apa kunci keselamatan umat ini?”
Rasulullah SAW menjawab:”Orang yang menerima dariku kalimat yang aku tawarkan pada pamanku tapi dia menolaknya (dua kalimat syahadat), kalimat itu adalah kunci keselamatannya.”
Wallahu’alam bishawwab
*Pengurus LPM PROFESI FTI UII, periode 2003-2006
Al-MatPy ibnu Thalib*
Kemudian semuanya dihancurkan kecuali DIA, bahkan kehancuranpun dihancurkan, sehingga setelah itu tak ada lagi kehancuran;
Kemudian semua yang hidup dan bernyawa dimatikan, kecuali DIA, bahkan kematianpun dimatikan, sehingga setelah itu tak ada lagi kematian;
Setelah semuanya dihancurkan dan dimatikan, yang ada hanya DIA;
DIA berkata:”Akulah Raja”;
Kemudian DIA menghendaki menghidupkan setelah mematikan;
Masing-masing lapor kepadaNYA;
Maka datanglah:
Sembah hamba, hamba diciptakan dari api, hamba menjadi makhluk seperti yang Engkau kehendaki, hamba melakukan hakikat penciptaan hamba, hamba tidak bersujud pada mereka seperti yang Engkau kehendaki, hamba menggoda hidup mereka selama didunia, dengan izin-Mu seperti yang Engkau kehendaki, dan kami tidak dapat menyesatkan satupun diantara mereka, melainkan siapa yang Engkau kehendaki, yaitu mereka yang berlepas dari Engkau, tugas hamba selesai, hakikat penciptaan kami telah kami jalankan;
Kemudian datanglah:
Sembah hamba, hamba diciptakan dari cahaya, hamba menjadi makhluk seperti yang Engkau kehendaki, hamba melakukan hakikat penciptaan hamba, hamba bersujud pada mereka seperti yang Engkau kehendaki, hamba taat, tunduk dan sujud kepada Engkau seperti yang Engkau kehendaki, dan kami tidak dapat menyelamatkan satupun diantara mereka, melainkan siapa yang Engkau kehendaki, yaitu mereka yang berserah pada Engkau, tugas hamba selesai, hakikat penciptaan kami telah kami jalankan;
Lalu datanglah:
Bintang dan Matahari lapor, Engkau ciptakan kami untuk bercahaya dan menerangi semesta, kami bersinar dan berhenti bersinar seperti yang Engkau kehendaki, tugas kami selesai, hakikat penciptaan kami telah kami jalankan.
Bumi, bulan dan planet lapor, Engkau ciptakan kami seperti yang Engkau kehendaki, kami berputar dan bergerak seperti yang Engkau kehendaki, tugas kami selesai, hakikat penciptaan kami telah kami jalankan.
dan datanglah, datanglah dan datanglah;
Akhirnya datanglah:
Sebagian dari mereka datang dan berkata: “Sembah hamba Ya Rabb, Engkau telah menciptakanku dari tiada, Engkau telah menghidupkanku sebelum mati, Engkau menjadikanku sebagai manusia, aku hidup di dunia seperti yang Engkau kehendaki, hamba menjadi makhluk seperti yang Engkau kehendaki, Engkau mengilhamkan kepadaku kefasikan dan ketakwaan, dan tidaklah Engkau ciptakan aku melainkan untuk menyembah kepada Engkau, tugas hamba,,,;
Kemudian tersadar ternyata sekarang aku sedang menulis, dan kalian sedang membaca tulisan ini. Karena tidak sehelai daunpun jatuh, kecuali Allah mengetahuinya, maka sekarang Allah pasti tahu bahwa kalian sedang membaca tulisan ini. Karena bumi dan seisinya tidak diciptakan dengan kebetulan, maka adalah skenario Allah menakdirkan terbacanya tulisan ini. Beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu. Allah member petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dia telah menciptakan kita dari tanah, kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian kita dilahirkan sebagai anak manusia, kemudian kita dibiarkan hidup supaya kita sampai masa dewasa, kemudian dibiarkan hidup lagi sampai tua, diantara kita ada yang diwafatkan sebelum itu, supaya kita sampai ajal yang ditentukan dan supaya kita memahaminya. Kita hendaknya memahami bahwa Matahari dan Bintang diciptakan untuk bersinar menyinari alam raya dan bumi tempat kita tinggal; memahami gunung diciptakan supaya bumi tempat kita berada tidak guncang; memahami bahwa laut ditundukkan untuk kita, agar dapat memakan daging yang segar, dan mengeluarkan dari lautan perhiasan, dan supaya kita bersyukur; memahami bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia. Maka sudahkan kita memahami untuk apa kita diciptakan?
Kita dapat mengetahui untuk apa padi di tanam, dari petani yang telah menanam padi. Kita dapat mengetahui untuk apa perahu dibuat, dari nelayan atau yang telah membuatnya. Kita dapat mengetahui untuk apa suatu benda dibuat, dari pembuatnya. Sehingga kita dapat mengetahui untuk apa kita diciptakan, dari pencipta kita.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz Dzaariyat:56)
Padi yang tidak menghasilkan padi, tentunya adalah padi yang gagal, yang tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Perahu yang tidak dapat digunakan untuk berlayar, juga adalah produk gagal yang secara fungsional tidak lagi dikatakan perahu karena tidak dapat berfungsi layaknya perahu. Suatu benda yang tidak memenuhi tujuan pembuatannya, telah gagal untuk menjadi benda yang dimaksud. Maka manusia yang telah terlahir ke dunia dan tidak menjalankan tujuan penciptaannya untuk mengabdi, beribadah dan menyembah kepada Allah, maka Ia telah gagal untuk memenuhi hakikat penciptaannya.
Dalam kalimat yang disampaikan Ustadz Syatori Abdurrauf (Pengasuh Pesantren Mahasiswi Daaru Shalihat, Yogyakarta), ‘hidup harus selesai sebelum berakhir’, yang berarti bahwa kita harus sudah memenuhi tujuan penciptaan kita, sebelum waktu hidup kita di dunia berakhir. Artinya kita harus tunduk mengabdi, taat berbakti, sujud pasrah diri, kepada Illahi Rabbi sebelum mati. Dan karena setiap kita tidak tahu kapan masing-masing kita punya sisa waktu, maka tidak ada kata nanti untuk memulai.
Karena setiap amal yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban, karena kaki akan ditanya kemana dia melangkah? Tiap pandangan mata dalam tiap detik akan ditanya pada apa saja dia melihat? Tiap gendang telinga yang bergetar dalam setiap helaan nafas akan ditanya suara apa saja yang ia dengar? Hati dan pikiran akan dihisab, apa saja yang pernah terlintas? Lidah dan kemaluan akan dipertanggung jawabkan, dan seluruh amal hidup kita akan dilaporkan.
Mahasuci Engkau Ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah melainkan Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
Wallahu’alam
(MatHYuS 070727)
*Pengurus LPM PROFESI FTI UII, periode 2003-2006
Oleh Al-matPY ibnu thalib
Saat ini terasa sepi, tepatnya sunyi, tapi kulihat banyak orang lalu lalang dengan masing-masing aktivitasnya. Siang ini terasa terik, tapi tak kulihat matahari. Aku lelah, tapi tubuhku terasa ringan. Semua benda harusnya terlihat, tapi kadang ada yang tak nampak. Kurasa waktu berjalan tidak berurutan dan tidak dengan ukuran seperti biasanya. Anehnya, keanehan ini tak kurasakan sebagai keanehan, seaneh munculnya sesosok tubuh dengan tiba-tiba dihadapanku. Semua pandangan selain sosok itu seakan lenyap, tertelan konsentrasiku coba mengenali siapa gerangan pemilik sosok itu. Semakin ia mendekat, akhirnya aku dapat mengenalinya: ‘abocks’ begitu aku biasa memanggilnya. Dia berubah! Penampilannya, wajahnya dan senyumnya. Rambutnya pendek rapi, tak lagi gondrong, terlihat acak-acakan dan terkesan kumuh. Bukan jeans dengan sobekan dilutut atau kaos oblong, tapi jubah putih lengkap dengan kopeahnya. Wajahnya teduh, tak sekusut terakhir aku berjumpa dengannya. Dan yang paling sulit kuterima dan sulit kujelaskan adalah, senyumnya. Begitu lepas, tulus, ikhlas, bahagia, damai dan membuatku bertanya, darimana dan bagaimana dia mendapatkan senyum itu? Apa yang membuatnya berubah sedrastis itu? Sudahkah dia temukan arti hidupnya? Tapi entah kenapa aku tak dapat mengutarakan satupun pertanyaan. Dan dia bicara dalam diam tidak dengan bahasa suara:”Terima kasih ‘teman’ atas apa yang kau beri siang itu. Malamnya kuberikan sepenuhnya pada Tuhanku, apa yang kupunya dengan diriku, jiwaku, hidupku. Dan tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Nya!!! Andai karunia waktu dan hidup di dunia masih Dia berikan padaku, bahagialah kamu yang masih punya kesempatan untuk beribadah kepada-Nya. Terima kasih saudaraku, semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. Sampai jumpa di masa paling depan:saat kembali pada-Nya” Begitu saja dia pergi menjauh. Dan tiba-tiba mataku terbuka dari tidur, mengakhiri mimpiku.
Aku coba mencerna dengan seksama dalam sadarku, mimpi yang baru kualami. Dan bayangku mengarah pada seorang teman yang baru saja kutemui dalam mimpiku.
Seorang teman yang menurut orang disekitarnya dianggap aneh. Tapi aku sebagai teman kuliah dan juga teman satu organisasi dengannya, tak lagi merasa keanehan dengan semua yang ada padanya, setelah aku semakin mencoba mengenal dia lebih dari sekedar aku sebagai orang diluar dirinya. Awal aku mengenal dia memang aku juga menganggapnya aneh seperti kebanyakan orang disekitarnya. Seiring waktu, aku baru bisa sedikit memahaminya dengan berhenti mencoba mengenalnya, dan mencoba keluar dari ke-aku-an, dan melampaui diri sendiri, saat itu aku belajar darinya untuk tidak sekedar menjadi diri sendiri, juga belajar menjadi orang lain. Dan akhirnya mencoba menjadi dirinya, maka aku dapat merasakan apa yang dia rasakan sebagaimana aku mengenal apa yang kurasakan. Dia hanya orang yang menjadi orang lain dengan mematikan dirinya yang sesungguhnya. Dia banyak menciptakan kepribadian untuk dia jadikan kepribadian buatannya sendiri. Dia coba menikmati hidupnya bukan sebagai dirinya. Katanya itu adalah untuk dia dapat mengenal siapa dirinya sebenarnya, dan untuk apa hidupnya.
Pertemuan kami terakhir kali pada suatu siang, hari terakhir ujian, bukan dalam mimpi, dalam dunia nyata, di kampus tepatnya di lantai empat gedung fakultas. Mengisi waktu menunggu ujian, kami mengobrol yang menurutku cukup biasa. Katanya dia malas ujian, malas kuliah dan malas hidup. Ujian adalah bagian dari proses kuliah, sementara kuliah adalah bagian dari hidupnya, dank arena dia malas hidup, diapun malas melakukan apapun. Waktu itu aku hanya bilang:”Kalo kamu malas ujian, kamu gak kasihan sama dirimu sendiri? Kenapa tetap datang ujian? Kalo kamu malas kuliah, kasihan orang tua kamu membiayai kuliahmu. Kalo kamu malas hidup, kasihan Tuhan capek-capek nyiptain kamu, menghidupkan kamu, dan membiarkan kamu hidup sampai sekarang.”
“Itu dia masalahnya, kalau kamu kasihan sama Tuhan, tidakkah kamu kasihan pada kita sebagai manusia? Apakah kita minta untuk diciptakan? Apakah kita diberikan pilihan untuk menentukan jalan hidup kita? Apa kita berhak untuk menetapkan apa yang kita dapatkan dan apa yang tidak kita dapatkan dalam hidup kita? Apakah kita bisa memutuskan apakah kita akan masuk neraka atau surga? Nyatanya yang kita tahu sekarang kita hidup, hidup kita terikat takdir, dengan ketetapan apakah kita ahli surga atau neraka. Apakah kita bisa merubah apa yang tertulis dalam sijjin dan iliyyin, atau minimalnya mengetahui apa isinya? Apakah kita memiliki posisi yang setara dengan seandainya kita dapat menulis lauh mahfudz? Hal yang ghaib tersembunyi, sementara hakikat terlihat samar bagi kita. Jika kehidupan ibarat permainan catur, Tuhan bermain dengan diriNya sendiri. Kita hanyalah bidak-bidak yang mengira kita adalah pemain. Dalam petak hitam-putih kebenaran dan keburukan, dengan bidak hitam-putih kebaikan dan kejahatan, kita hanya salah satu bidak dari bidak-bidak makhluk Tuhan lainnya. Sehingga keadan akhir bukanlah kemenangan atau kekalahan, karena pemainnya sama. Kita tidak diberikan pilihan berada di pihak yang kalah atau menang, kita hanya berada diposisi yang pemain inginkan, menjadi bidak putih atau hitam dan ada di posisi petak hitam atau putih, adalah hak pemain. Kita bahkan tidak punya pilihan untuk jadi raja, menteri atau prajurit, juga kemana kita akan melangkah. Karena dimensi ‘waktu’, Dia ciptakan sebagai titik, dimana kemarin adalah sekarang, sekarang adalah besok, dan kita dimatikan saat kita dilahirkan sebagaimana kehidupan dibinasakan saat Ia diciptakan. Tapi yang kita tahu waktu berjalan sebagai garis lurus, awal berjalan menuju akhir, pagi-siang-sore, senin-selasa sampai minggu, januari hingga desember, diciptakan dan akhirnya dihancurkan. Bukankah kita adalah mainan Tuhan? Siapa yang kamu kasihani sekarang?”
Aku menjawab sekenanya:”Sekarang aku jadi kasihan sama kamu, kenapa kamu dimakan dan ditindas pikiranmu sendiri. Aku tidak lagi kasihan sama Tuhan, karena Dia memang Maha suci dari celaan dan apa yang kita sangkakan, Maha besar dari permasalahan kecil kehidupan, jangankan ada tidaknya kamu, ada tidaknya kehidupan hakikatnya tidak menambah atau mengurangi walau setitikpun keagungan Tuhan. Mungkin kamu juga dibohongin hatimu sendiri, tidakkah kamu sadar kamu sedang dipermainkan makhluk yang katanya bertanduk? Sejak kamu lahir sampai kamu mati, dia itu musuhmu sebenarnya yang sering kamu lupa, dan lengah menghadapi serangannya. Jawaban pertanyaan kamu sebenarnya ada sebelum pertanyaan itu terlontarkan, yaitu ketika kamu memilih untuk mempertanyakan pertanyaan itu atau tidak, sehingga kamu bisa bertindak sebagai majikan atau budak pikiranmu. Sebagai bidak, keridhaan atau kemurkaan pemain adalah parameter kemenangan. Surga dan neraka adalah keadaan akhir kemungkinan posisi kita beradan. Pilihan kita memang bukan menjadi raja, menteri atau prajurit, tapi apakah kita menjalankan tugas sesuai dengan posisi kita. Apapun yang kita pikirkan dan rasakan, Tuhan sangat jauh lebih mahatahu dari sekedar apa yang kita tahu. Setidaknya kamu harus tahu bahwa tidaklah pemain menyusun bidaknya melainkan untuk mematuhi perintahnya. -Wa maa khalaqtul jinna wal insaa illa liya’budun-“. Dia menjawab dengan diam.
***
Esok harinya sebuah sms kuterima:”Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, tlah mninggal dunia: Abocks Pynthone, teman dan saudara kita, pd hari jumat, 17 Nov 06, dlm kecelakaan di kampung halamannya, ciamis. Semoga arwahnya diterima disi Allah SWT, Amin.” Kulayangkan pandangku pada kalender yang terpajang di dinding, hari ini: Senin, 20 Nov 06.(al-mpy)
